Saya tidak dapat mengingat sejak kapan saya mulai punya keinginan yang begitu kuat untuk menjadi seorang guru. Semasa kanak kanak, saya bermain sekolah-sekolahan dengan beberapa keponakan dan kawan saya agar dapat belajar mempraktekkan cita citaku yg satu ini. Tapi yg tak kusadari selaku seorang kanak kanak adalah begitu mahal impianku tersebut. Saya berasal dari keluarga kelas menengah,dan tampaknya kita selalu harus bekerja keras untuk memperjuangkan segala sesuatunya. Impianku untuk kuliah di Universias Connecticut seolah olah begitu jauh dari jangkuanku, meskipun begitu aku tak pernah berhenti berusaha.

Di tahun tahun awal masa SMU saya sudah mulai mengajukan pendaftaran ke beberapa lembaga pendidikan tinggi, tapi dalam hatiku sudah ku putuskan, Universitas Conecticut-lah satu satunya tujuanku. Tetapi halangan yg besar sudah berdiri di antara aku dan impianku – masalah pembiayaan.

Pada awalnya, saya sudah siap mundur. Maksudku, siapa yg bersedia membiayai pendidikan tinggi seorang gadis SMU dengan nilai biasa biasa saja. Saya tidak termasuk murid yg cerdas sekali, mendekati saja belum; tetapi hatiku sudah sulit di ubah, dan saya sudah bertekad bulat. Saya tahu bahwa bea siswa umumnya di berikan kepada murid yg cerdas, atau yg begitulah pikirku. Saya mengajukan ke hampir semua pemberi bea siswa yg dapat kutemukan, lagipula apa ruginya? sampai kemudian pembimbingku memberitahukan saya tentang system pemberian bea siswa. Meskipun saya sudah mengajukan, tapi rasanya saya tak akan memenuhi syarat yg di tetapkan.

Setelah masa liburan selesai, kawan kawanku mulai menerima surat tanda terima masuk lembaga lembaga pendidikan tinggi, dan sayapun berharap harap dengan cemas. Akhirnya, sebuah surat datang juga dari Universitas Connecticut! Perasaan takut dan gembira sekaligus memenuhi seluruh tubuhku, meski begitu saya sudah siap. Saya membuka amplopnya dengan tangan gemetar sementara air mata mulai menitik dari kedua mataku. Saya berhasil! Saya diterima di Universitas Connecticut! Saya menangis sebentar, menahan perasaan sangat senang dan agak kawatir pula. Saya sudah bekerja begitu keras agar diterima; bagaimana seandainya saya ditolak lantaran masalah biaya?

Saya mulai bekerja secara full time sejak itu, tapi itupun hampir tidak mencukupi biaya kuliah yg kuperlukan. Kedua orang tua saya tak akan sanggup menanggung biaya sebesar itu dan sayapun tidak akan berpura pura mereka mampu. Sayalah anggota keluarga pertama yang akan memasuki pendidikan tinggi di Universitas, sudah pasti saya tahu kedua orang tua saya sangat bangga; tapi bagaimanapun mereka tidak mungkin bisa membiayai kuliahku. Meski begitu, kedua orang tua saya adalah orang tua yg hebat, mereka mengajarkan untuk tidak pernah menyerah mengejar impian meskipun banyak halangan yg saya temui, dan jangan membiarkan barang sedetikpun apa yg saya inginkan dalam hidup ini hilang dari pandangan. Saya tahu kedua orang tua saya benar dan sayapun senantiasa percaya terhadap diri sendiri dan impiamku.

Bulan bulan telah berlalu dan saya tidak mendapat kabar dari lembaga pemberi bea siswa. Saya sudah berpikiran bahwa saya tidak memenuhi persyaratan bea siswa, tapi saya belum putus asa. Akhirnya sebuah surat sampai juga ke tangan saya. Saya membukanya penuh harap, tapi rupanya itu bukan surat penentuan yang sebenarnya. Surat tersebut memsyaratkan lebih banyak informasi lagi agar permohonanku dapat diproses.

Kejadian seperti ini berlangsung berkali kali dan harapanku semakin mengempis. Akhirnya sebuah amplop tebal tiba. Saya sudah tahu bahwa yg satu ini akan menentukan apakah saya akan diterima atau tidak. Saya membuka amplopnya dan menemukan banyak dokumen yg tak dapat kumengerti maksudnya.

Hari berikutnya saya membawa seluruh dokumen tersebut ke sekolah agar pembimbingku dapat lihat isinya. Dia memandang saya dgn senyum yg sangat cerah dan bilang bahwa bukan hanya bea siswa berhasil kudapatkan, tapi dua permohanan bea siswa saya keduanya disetujui. Saya sangat terkejut pada saat itu tapi kemudian menangis. Saya benar benar telah berhasil membuat impianku menjadi kenyataan.

Saya sekarang adalah mahasiswa junior di universitas Connecticut yang sedang mengejar gelar sarjana di jurusan bahasa Inggris. Pada awal millenium baru ini impiamku akan menjadi nyata. Saya akan menjadi seorang guru.

Saya hidup bersama ungkapan ini : “Raihlah sampai setinggi langit sebab meskipun akhirnya tidak memcapai, engkau masih berada diantara bintang bintang”

Oleh: Rosa Torcasio

Share