TIRAI PANGGUNG YANG SELAMANYA TIDAK AKAN TUTUP0

Posted by Administrator in T (Tuesday June 20, 2006 at 1:03 pm)

Sampai sekarang, saya masih ingat bagaimana saya berkenalan dengan
Chang Yi Hsiung.

Pada suatu hari, saya menyetir mobil melewati Kwang Fu Road, Sin
Chu, tiba2 melihat seorang nenek yang usianya sangat tinggi jatuh
dijalanan dan tidak bisa berdiri kembali. Saya hentikan mobil untuk
menolongnya, kebetulan juga ada seorang pemuda yang mengendarai
sepeda motor ikut berhenti membantu saya. Kami berdua ber-sama2
mengangkat nenek tsb. kedalam mobil saya, saya minta pemuda itu ikut
bantu menjagai nenek tsb. dan tanpa ragu2 ia mengatakan ya. Pemuda
tsb. adalah Chang Yi Hsiung.

Kami lalu mengatarkan nenek ini ke rumah sakit yg terdekat.
Dalam perjalanan, dari kaca spion, terlihat oleh saya wajah Chang
sinar yg sangat lembut, dengan sangat hati2 ia memegang nenek itu
agar dapat menyandarkan dirinya dipundaknya, sementara tangan
nenek juga dipegangnya se-olah2 untuk menenangkannya. Walau tidak
sepatah katapun keluar dari mulutnya Chang, tetapi dari tingkah laku
ketahuan bahwa dia sedang menenangkan dan menghibur hati nenek itu.

Sampai di rumah sakit, nenek tsb. diperiksa dokter, untung tidak ada
masalah serius, hanya karena usia tinggi saja dia tak berdaya. Maka
saya telepon ke pos polisi terdekat untuk memberitahukan kejadian
tsb., kebetulan sekali, anak dari nenek ini sedang mencari ibunya
melalui pos polisi juga.
Segera dia datang ke rumah sakit, saya dapat melihat yg namanya
anak ini, sudah berusia sekitar tujuh puluhan, jadi nenek itu sudah
berumur sekitar sembilan puluhan.

Pada saat saya sedang telepon, sejengkalpun Chang tidak
meninggalkan nenek itu, satu tangannya masih memegang tangan nenek
erat2, satu tangan lagi dengan ringan menepuk punggung nenek, sedangkan
mulut nenek komat kamit entah berbicara apa tidak ada yg tahu, dengan
tatapan mata berharap kepada Chang, dan Chang juga balik menatap
nenek dengan lembut.
Setelah anak nenek bertemu dengan ibunya, kamipun meninggalkan
rumah sakit. Saya antar Chang kembali ke Kwang Fu Road untuk
mengambil sepeda motornya, dalam perjalanan, saya tidak dapat
tahan ingin tahu apakah Chang adalah seorang imam gereja,
karena begitu lembutnya, begitu sabarnya dia, sikap yg begini
jarang sekali terlihat pada diri orang muda biasa.

Chang sangat senang mendengar unkapan saya, dia bilang dia bukanlah
seorang imam, tetapi adalah murid dari akademi kesenian bagian
drama, dia bilang bahwa dia sebenarnya sedang coba memerankan
sesuatu, karena kebetulan dalam waktu dekat dia akan naik panggung
memerankan seorang pastor. Oleh karena itu, begitu dia naik mobil, dia
sudah mulai berperan, dia tanya kepada saya, bagaimana permainannya,
saya jawab bahwa saya sama sekali tidak tahu dia itu sedang bermain
sandiwara. Chang lalu berkata, sebenarnya walaupun semulanya dia
mempraktekkan peranannya, akan tetapi sesampai dirumah sakit sudah
tidak demikian. Artinya, kepercayaan dan kebergantungan si nenek
terhadap dia membuat dia tidak bisa lagi bermain sandiwara. Chang
berkata bahwa saat2 dirumah sakit tadi itu memberikan dia suatu
pengalaman baru, dan juga akan merupakan satu kenangan yg
indah bagi dia dikemudian hari.

Chang adalah orang muda yg riang, banyak berbicara, dari situ saya
tahu bahwa bapaknya adalah profesor fakultas mass media dari
universitas Ching Hwa. Rupanya bapaknya adalah teman saya juga,
begitulah kecilnya dunia ini. Setelah peristiwa tsb., saya sempat
menyaksikan beberapa pertunjukan Chang di panggung, sebagai orang yg
tidak mendalami dibidang tsb., saya tidak dapat mengeritik apakah
Chang itu seorang pemain drama/sandiwara yg baik atau bukan, akan
tetapi saya rasa, apapun yg diperankannya, selalu mirip sekali dengan
peranan itu. Bapaknya Chang memberitahukan saya bahwa anaknya
itu serius sekali dalam mengerjakan tugasnya, sebelum berperan sebagai
seorang pastor, dia mencari seorang pastor dan minta untuk tinggal ber-
samanya selama 2 minggu, juga pada kesempatan itu belajar agama.

Sekali waktu dia memeran kuli bangunan jalan, betul2 dia melakukan
kerja kasar selama seminggu. Tentulah dia sangat bagus dalam setiap
peranannya. Tapi hal yg kemudian mengejutkan saya adalah, Chang
mengatakan dia akan menjadi pastor, begitu riang dan lincahnya orang
muda ini, mengambil keputusan untuk menjadi pastor, tentunya
sangat mengherankan. Setelah saya tahu dari bapaknya, bahwa karena
mau memerankan pastor, dia lalu berkenalan dengan seorang pastor,
selanjutnya menjadi seorang umat katolik, dan terakhir ingin menjadi
pastor. Kata bapaknya, sebenarnya tidaklah mengherankan, karena
dibelakang sikap Chang yg lincah itu, sesungguhnya dia adalah
seorang pemuda yang sangat serius dalam kehidupan se-hari2nya.

Beberapa tahun kemudian, saya diundang untuk menghadiri pentabisan
Chang sebagai seorang gembala gereja, upacara berlangsung sangat
takjub, satu saat Chang menerungkupkan dirinya total dilantai, waktu
itu saya berpikir dalam hati:
Chang, Chang, jangan2 apakah ini sandiwara saja?! Saya tahu Chang
memulai tugasnya melayani mahasiswa/i, dia pintar nyanyi, main
gitar, dengan gampang bergaul baik dengan para mahasiswa. Setahun
kemudian, tiba2 dia bilang mau membawa terang dan hangat dari Yesus
ke sudut yg gelap, dengan persetujuan uskup, dia membawa injil kedalam
penjara. Dia menulis surat ke saya, bahwa untuk memerankan seorang
gembala yg baik disana adalah pekerjaan yg sangat sulit dan pahit.

Saya juga ada kontak dengan bapaknya Chang, dari dia saya tahu bahwa
walaupun Chang sangat serius dalam melayani, akan tetapi kebanyakan
narapidana bereaksi dingin terhadapnya.
Sampai pada minggu lalu, saya membaca di koran, bagaimana pastor
Chang disenangi oleh para narapidana di dalam penjara itu, bahwa
sekarang mereka senang sekali menghadiri misanya.
Saya berusaha untuk mengunjungi masuk kedalam penjara itu, maksud
hanya satu, ingin tahu apa yg membuat pastor Chang sangat disenangi
disitu.

Tiba saatnya saya sedang keliling melihat suasana dalam penjara
itu, terlihat oleh saya seorang kacung sedang mencuci kakus, dia
menegur saya: “bukannya kamu profesor Li?” Segera juga saya
mengenalnya, dan seketika itu mulut saya terganga tidak dapat
bersuara, rupanya pastor kita sedang mencuci kakus.

Kepala jawatan penjara membertahukan kepada saya, bahwa pastor
Chang benar telah berubah menjadi kacung di dalam penjara. Dia
mengerjakan apa saja, cuci kakus, menyapu, membersihkan jendela
kaca, sampai tanam bunga dan potong rumput. Dia tinggal didalam
penjara, makan ber-sama2 para pidana, karena dia adalah seorang
imam, setiap hari mengadakan misa, lalu meluangkan waktu untuk
mengajar, pada malam harinya memberitakan injil. Walaupun dia pastor,
dia betul2 adalah kacung.

Pada saat saya pamit, Chang mengantar saya keluar, saya tanya
mengapa kali ini kamu bisa sukses? Dia jawab, karena kali ini
perannya adalah diri Yesus sendiri, dia berpikir lama, dan akhirnya
sadar, bahwa kalau Yesus datang kedunia ini untuk mewartakan injil,
Yesus pasti tidak akan berdiri diposisi tinggi mengabarkan warta
gembiranya, pasti dia akan dengan sangat rendah hati memberi
pelayanannya. Maka, dia memutuskan untuk menjadi seorang
kacung yg memberikan pelayanan dari paling bawah, dan tinggal
terus didalam penjara, walaupun ada pidana yg sudah meninggalkan
tempat itu, dia sendiri masih tetap tinggal disitu. Pada malam tahun
baru yg seharusnya pulang kerumah bapaknya, dia juga bersikeras
untuk menemani yg masih dipenjara.

Saya lalu tanya: “Apakah kamu kali ini bersandiwara lagi?”
Jawabnya: “Boleh saja anda bilang begitu, akan tetapi peranan
ini, tidak ada istilah diatas panggung, dibawah panggung, tidak
ada juga istilah didepan panggung atau dibelakang panggung, jika
mau mejalankan peranan ini, tirai panggung selamanya tidak akan
ditutup.”

Sepanjang jalan kami menuju keluar penjara, dimana harus melewati
beberapa pintu besi, sampai disatu pintu besi dimana narapidana
tidak dapat melewatinya, Chang berhenti mengantarkan saya. Saya
keluar, dia tinggal didalam. Dia melambaikan tangannya kepada saya
dari dalam, sayapun mengerti akhirnya, apa artinya yg disebut “tirai
panggung yang selamanya tidak akan ditutup.”

Penulis: Prof Li Chia Thung
Publikasi: World Journal
Diterjemahkan oleh: Jennie Lo

Dan ketahuilah, AKU menyertai kamu senantiasa
sampai kepada Akhir Zaman.

*Jokes* MOBIL DI SURGA0

Posted by Administrator in J (Tuesday June 20, 2006 at 1:01 pm)

Pak Haji meninggal dua hari yang lalu dan hari ini ia diterima seorang malaikat penjaga gerbang surga. Sang malaikat Berkata: “Pak Haji, jalan ke surga masih jauh, ini saya kasih Suzuki Carry supaya nggak capek jalan kesananya dan kendaraan ini buat Pak Haji yang dapat digunakan selamanya di surga nanti”. Pak Haji: “Wah, terima kasih sekali!” sambil tersenyum. Pak Haji dengan senangnya mengendarai Suzuki Carry pemberian si malaikat tadi.

Beberapa saat kemudian, secara tiba-tiba ada sebuah Toyota Corolla melaju dari belakang dan menyalip Suzuki Carry yang dikendarai Pak Haji. fiiiooosshhh…… Pak Haji secara sekilas sempat melihat pengendara Toyota Corolla tadi..ternyata seorang pastor! Pak Haji agak jengkel dan nggak terima… masa ia cuma dikasih Suzuki Carry. Akhirnya ia balik arah hendak menemui si malaikat lagi. Begitu sampai Pak Haji langsung berkata: “Ini tidak adil, masa si pastor bisa dapat Toyota Corolla sedang saya cuma Suzuki Carry?” Sang malaikat berkata dengan kalem: “Begini Pak Haji..bapak kan hidupnya di dunia sudah enak..bisa kawin, bisa punya istri empat lagi….sedangkan seorang pastor kan hidup selibat dan harus mengatasi keinginan duniawi. Jadi mengertilah……..kini saatnya si pastor tadi mendapat imbalan.” Pak Haji berpikir sejenak dan mengangguk: “Oya..ya..benar juga. Oke lah saya nggak apa-apa pakai Suzuki Carry…..yang penting bisa sampai ke surga.”

Dengan gembira Pak Haji mengendarai Suzuki Carrynya lagi dan meluncur dengan santai.

Tetapi tanpa disangka-sangka ada kendaraan lain lagi yang melaju kencang dan langsung menyalip Pak Haji. Kali ini Mercedes SL-500 open kap dan pengendaranya adalah seorang pemuda berambut gondrong dan ngebut. Rambutnya berkibar tertiup angin saking kencangnya Mercedes tersebut. Kali ini pak Haji geram dan berkata dalam hati: “Huh! Kalau tadi pastor dengan Corolla, bisa saya terima. Tapi kali ini pemuda berambut gondrong dengan Mercy SL-500?…….itu keterlaluan!!!”. Dengan cepat Pak Haji berbalik menemui si malaikat lagi. Setelah sampai, ia langsung lompat dari mobil dan marah-marah: “Ini sudah keterlaluan, masa seorang pemuda gondrong dan ngebut bisa dapat Mercy..open kap lagi!???”.

Si malaikat tampak ketakutan dan terus celingak-celinguk, akhirnya ia berbisik ke Pak Haji: “Ssstttt…itu…Jesus…!!!”

Jesus Really Does Love You0

Posted by Administrator in J (Tuesday June 20, 2006 at 11:25 am)

Pada setiap Minggu siang, yaitu sesudah ibadah pagi berakhir, Pak Pendeta
dengan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun selalu pergi ke kota untuk
membagikan traktat.

Namun pada hari Minggu siang itu udara di luar terasa sangat dingin karena
hujan telah menyirami bumi sejak pagi.

Ketika saat untuk membagikan traktat tiba, anak laki-laki itu
mulai bersiap-siap mengenakan baju hangatnya dan berkata, “Aku sudah
siap, Pa!”

“Siap untuk apa?” Pendeta itu menjawab.

“Pa, bukankah ini waktu bagi kita untuk membagikan traktat-traktat ini?”.
Pendeta itu menjawab, “Nak… di luar udara sangat dingin dan hujan
masih turun.”

Anak itu memandang papanya dengan penuh keheranan, “Tapi Pa, meskipun hujan
turun, bukankah masih ada banyak orang yang belum mengenal Yesus dan mereka nanti akan masuk neraka?”

Pendeta itu menjawab, “Tapi nak… aku tidak ingin pergi dalam cuaca seperti
ini.”

Dengan sedih anak itu memohon, “Pa… aku harus pergi, boleh, kan?”
Pendeta itu ragu-ragu sejenak lalu berkata, “Kamu tetap ingin pergi? Kalau
begitu, ini traktat-traktatnya dan hati-hatilah di jalan, ya.” “Terima
kasih, Pa!!!” Lalu anak itu bergegas meninggalkan rumah dan pergi menembus
hujan dan udara luar yang sangat dingin.

Anak laki-laki berusia sebelas tahun ini berjalan di sepanjang jalan- jalan
kota sambil membagi-bagikan traktat Injil dari rumah ke rumah. Setiap orang
yang ditemuinya di jalan diberinya traktat.

Sesudah 2 jam berjalan di tengah-tengah hujan, anak ini menggigil kedinginan
tapi masih ada satu traktat Injil terakhir yang masih ditangannya. Lalu ia
berhenti di suatu sudut jalan dan mencari seseorang yang dapat diberinya
traktat, tapi jalanan itu sudah sepi sama sekali.
Lalu ia menuju ke rumah pertama yang dilihatnya di ujung jalan itu.

Ia berjalan mendekati pintu depan rumah itu dan membunyikan bel. Setelah ia
memencet bel, tidak ada jawaban dari dalam. Lalu ia memencet bel lagi dan
lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Ditunggunya lagi beberapa waktu, namun
masih saja tidak ada jawaban.

Akhirnya, anak laki-laki ini memutuskan untuk pergi, tapi ada sesuatu yang
mencegah keinginannya untuk pergi, maka sekali lagi, dia menuju pintu,
memencet bel dan mengetuk pintu keras-keras dengan tangannya. Ia
menunggu, ada perasaan kuat yang membuatnya tetap ingin menunggu di depan
rumah itu. Dia memencet bel lagi, dan kali ini pintu itu perlahan-lahan
dibuka.

Nampak seorang wanita yang berwajah sedih berdiri di depan pintu.
Wanita itu dengan pelan bertanya, “Ada apa, nak? Apa yang dapat kulakukan
untukmu?”

Dengan mata bersinar-sinar dan tersenyum, anak laki-laki ini berkata, “Ibu,
maafkan aku karena mengganggumu, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa Yesus
sungguh-sungguh mengasihimu, dan aku datang ke rumah ini untuk memberikan
traktat Injil terakhir yang aku miliki.Traktat Injil ini akan menolong Ibu
untuk dapat mengetahui segala sesuatu tentang Yesus dan Kasih-NYA yang
besar.”

Anak itu memberikan traktat terakhirnya kepada wanita itu dan ia segera
pergi. Saat beranjak pergi, wanita itu berkata,”Terima kasih, Nak!”

Hari Minggu berikutnya, Pak Pendeta, papa dari anak laki-laki tadi, berdiri
di balik mimbar dan memulai ibadahnya dengan pertanyaan, “Adakah diantara
jemaat yang ingin memberikan kesaksian atau ingin membagikan sesuatu?”

Di barisan kursi paling belakang, seorang wanita terlihat perlahan-lahan
berdiri. Saat ia mulai bicara, nampak wajahnya berseri-seri dan ia berkata,
“Tidak satupun di antara anda yang mengenal aku. Aku belum pernah ke gereja
ini sebelumnya. Anda perlu ketahui, hari Minggu yang lalu aku bukanlah
seorang Kristen. Suamiku telah meninggal beberapa waktu yang lalu dan
meninggalkan aku sendiri di dunia ini.”

“Hari Minggu yang lalu,” lanjut wanita itu, “Dinginnya hatiku
melebihi dinginnya cuaca dan hujan di luar rumah. Aku berpikir aku tidak
kuat dan tidak sanggup lagi untuk hidup. Lalu aku mengambil tali dan
sebuah kursi, kemudian naik tangga menuju ke loteng rumah. Aku mengencangkan
ikatan tali kuat-kuat di palang kayu penopang atap, lalu berdiri di kursi
dan mengikatkan ujung tali yang lain di leherku. Aku berdiri di kursi
itu dengan hati yang hancur. Saat aku hendak menendang kursi itu, tiba-tiba
bel rumahku berbunyi nyaring.”

“Aku menunggu beberapa saat sambil bertanya dalam hati, ’siapakah yang
membunyikan bel itu?’. Aku menunggu lagi, karena bel itu berkali-kali
berbunyi dan semakin lama kedengarannya semakin nyaring, apalagi
ketika terdengar ketokan pintu. ‘Siapa yang melakukan hal ini?’
tanyaku dalam hati, ‘Tak ada orang yang pernah membunyikan bel rumah dan
mengunjungiku’. Lalu aku mengendorkan ikatan di leherku dan bel yang
berbunyi mengiringi langkahku menuju pintu depan di lantai bawah.”

“Ketika kubuka pintu, aku hampir tidak percaya dengan apa yang
aku lihat, karena di teras rumahku berdiri seorang anak anak laki-laki yang
belum pernah aku lihat sebelumnya. Wajahnya berseri-seri seperti malaikat
dan senyumnya… oh aku tidak dapat menggambarkannya pada anda! Dan
perkataan yang diucapkannya sungguh menyentuh hatiku yang telah lama beku,
‘Ibu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh mengasihimu.’
Lalu dia memberiku traktat Injil yang saat ini kupegang.”

“Saat malaikat kecil itu menghilang dari rumahku, menembus dingin udara dan
hujan, aku menutup pintu dan membaca setiap kata dalam traktat Injil ini.
Aku kembali ke loteng untuk mengambil tali dan kursi yang akan kupakai untuk
bunuh diri, karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Anda lihat, sekarang
aku seorang Anak Raja yang bahagia dan karena ada alamat gereja ini di
bagian belakang traktat, maka aku datang ke tempat ini untuk mengucapkan
terima kasih pada malaikat kecil yang datang tepat pada waktu aku
membutuhkannya. Tindakannya itu telah menyelamatkan jiwaku dari hukuman
neraka yang kekal.”

Seluruh jemaat di gereja itu meneteskan air mata. Seiring dengan pujian
syukur yang dinaikkan untuk memuliakan Raja, yang bergema di setiap
sudut bangunan gereja, Pak Pendeta turun dari mimbar dan pergi menuju ke
bangku di barisan depan, tempat dimana “malaikat kecil” itu duduk.
Pak Pendeta itu menangis tak tertahankan dalam pelukan anaknya.

TUHAN Memberkati