The Little Match-Seller0

Posted by Administrator in T (Friday June 23, 2006 at 1:51 pm)

by Hans Christian Andersen

It was terribly cold and nearly dark on the last evening of the old year, and the snow was falling fast. In the cold and the darkness, a poor little girl, with bare head and naked feet, roamed through the streets. It is true she had on a pair of slippers when she left home, but they were not of much use. They were very large, so large, indeed, that they had belonged to her mother, and the poor little creature had lost them in running across the street to avoid two carriages that were rolling along at a terrible rate. One of the slippers she could not find, and a boy seized upon the other and ran away with it, saying that he could use it as a cradle, when he had children of his own. So the little girl went on with her little naked feet, which were quite red and blue with the cold. In an old apron she carried a number of matches, and had a bundle of them in her hands. No one had bought anything of her the whole day, nor had anyone given her even a penny. Shivering with cold and hunger, she crept along; poor little child, she looked the picture of misery. The snowflakes fell on her long, fair hair, which hung in curls on her shoulders, but she regarded them not.

Lights were shining from every window, and there was a savory smell of roast goose, for it was New-year’s eve—yes, she remembered that. In a corner, between two houses, one of which projected beyond the other, she sank down and huddled herself together. She had drawn her little feet under her, but she could not keep off the cold; and she dared not go home, for she had sold no matches, and could not take home even a penny of money. Her father would certainly beat her; besides, it was almost as cold at home as here, for they had only the roof to cover them, through which the wind howled, although the largest holes had been stopped up with straw and rags. Her little hands were almost frozen with the cold. Ah! perhaps a burning match might be some good, if she could draw it from the bundle and strike it against the wall, just to warm her fingers. She drew one out—“scratch!” how it sputtered as it burnt! It gave a warm, bright light, like a little candle, as she held her hand over it. It was really a wonderful light. It seemed to the little girl that she was sitting by a large iron stove, with polished brass feet and a brass ornament. How the fire burned! and seemed so beautifully warm that the child stretched out her feet as if to warm them, when, lo! the flame of the match went out, the stove vanished, and she had only the remains of the half-burnt match in her hand.

She rubbed another match on the wall. It burst into a flame, and where its light fell upon the wall it became as transparent as a veil, and she could see into the room. The table was covered with a snowy white table-cloth, on which stood a splendid dinner service, and a steaming roast goose, stuffed with apples and dried plums. And what was still more wonderful, the goose jumped down from the dish and waddled across the floor, with a knife and fork in its breast, to the little girl. Then the match went out, and there remained nothing but the thick, damp, cold wall before her.

She lighted another match, and then she found herself sitting under a beautiful Christmas-tree. It was larger and more beautifully decorated than the one which she had seen through the glass door at the rich merchant’s. Thousands of tapers were burning upon the green branches, and colored pictures, like those she had seen in the show-windows, looked down upon it all. The little one stretched out her hand towards them, and the match went out.

The Christmas lights rose higher and higher, till they looked to her like the stars in the sky. Then she saw a star fall, leaving behind it a bright streak of fire. “Someone is dying,” thought the little girl, for her old grandmother, the only one who had ever loved her, and who was now dead, had told her that when a star falls, a soul was going up to God.

She again rubbed a match on the wall, and the light shone round her; in the brightness stood her old grandmother, clear and shining, yet mild and loving in her appearance. “Grandmother,” cried the little one, “O take me with you; I know you will go away when the match burns out; you will vanish like the warm stove, the roast goose, and the large, glorious Christmas-tree.” And she made haste to light the whole bundle of matches, for she wished to keep her grandmother there. And the matches glowed with a light that was brighter than the noon-day, and her grandmother had never appeared so large or so beautiful. She took the little girl in her arms, and they both flew upwards in brightness and joy far above the earth, where there was neither cold nor hunger nor pain, for they were with God.

In the dawn of morning there lay the poor little one, with pale cheeks and smiling mouth, leaning against the wall; she had been frozen to death on the last evening of the year; and the New-year’s sun rose and shone upon a little corpse! The child still sat, in the stiffness of death, holding the matches in her hand, one bundle of which was burnt. “She tried to warm herself,” said some. No one imagined what beautiful things she had seen, nor into what glory she had entered with her grandmother, on New-year’s day.

Gadis Kecil Penjaja Korek Api1

Posted by Administrator in G (Friday June 23, 2006 at 1:46 pm)

Langit amat kelam. Hujan mengurapi bumi. Deras. Genangan air naik hingga ke trotoar pertokoan. Bumi amat muram. Sementara itu lampu jalan dan neon-sign berkedap-kedip, berkilauan menyajikan mimpi. Seorang gadis cilik dengan buntalan kantung plastik hitam berjalan menelusuri tepian jalan yang gelap. Tangan dan kakinya, yang telanjang, membiru diterpa cuaca dingin. Dia berjalan sendirian sambil menjajakan korek api dagangannya kepada satu dua orang yang melintas. Tetapi tak ada yang memperhatikannya. Semua hanya bergegas lewat, memikirkan diri mereka sendiri, megejar waktu untuk pulang ke rumah masing-masing. Malam ini malam tahun baru dan semua orang bergegas untuk berkumpul bersama.

Aku takut pulang desah gadis itu pahit. Ayah pasti akan memukulku lagi bila aku pulang tanpa uang. Dia membayangkan rumahnya yang sempit dan kusam. Dinding yang retak dan ditutupi koran bekas serta kalender tua agar angin tidak menusuk masuk. Terakhir kali dia pulang tanpa uang, ayahnya yang sedang mabuk memukulnya. Kata ayahnya: Tidak ada makanan bagi orang malas! Toh, dia tak dapat memaksa orang untuk membeli korek apinya. Maka dia terus menelusuri trotoar kota. Di depan sebuah Restauran dia berhenti dan memandang ke dalam. Dia melihat kumpulan orang yang sedang bergembira. Di depan mereka terhidang makanan yang kelihatan amat lezat. Sayup-sayup dia mendengar alunan lagu Natal serta suara tawa. Dan beberapa anak seusianya berlarian memutari meja makan itu. Dengan sedih ia kemudian melihat pantulan tubuhnya pada kaca etalase Restauran. Wajah kurus, mata kuyu dan bajunya yang compang-camping membuatnya pilu. Dengan air mata yang mengembang di matanya dia meninggalkan tempat itu. Sayup-sayup dia mendengarkan alunan nada: Joy to the world, the Lord is came Sementara itu malam makin pekat. Jalanan kian sepi. Dan muram.

Akhirnya, dengan letih dia duduk di sudut gelap depan pertokoan yang telah tutup. Dia meringkuk kedinginan. Hujan semakin deras saja. Mama, mama. Bisiknya pelan. Dimanakah engkau?� Kata tetangga-tetangganya, ibunya pergi meninggalkan mereka sejak dia masih berumur satu tahun. Entah kemana. Kini dia telah berusia tujuh tahun. Dia tinggal bersama ayahnya yang menjadi pemabuk setelah ditinggalkan ibunya serta tidak punya kerja tetap lagi. Kadang-kadang mereka bahkan tidak mempunyai nasi sebutir pun untuk makan sehari. Seluruh penghasilannya akan diambil ayahnya untuk dibelikan arak.

Cuaca dingin kian menusuk tulangnya. Jari-jarinya terasa kaku dan beku. Dengan ragu-ragu dia membuka kantung plastik hitam jinjingannya. Dikeluarkannya sekotak korek api. Ah, kalau saja aku berani untuk menyalakan korek api ini, tanganku tentu akan terhangati Dia merasa bimbang. Tetapi akhirnya dia mengambil sebatang dan menyalakannya. Dan sungguh indah api yang berkilauan dalam gelap. Bagaikan nyala lilin. Sesaat dia merasa berada dalam sebuah ruang yang amat indah. Cahaya itu menari-nari membentuk pendiangan yang memanggil tubuhnya mendekat. Maka diapun menghampirinya. Tetapi sayang, korek api itu lalu padam dan bayangan itu pun menghilang.

Maka dinyalakannya korek yang kedua. Cahayanya jatuh memantul di tembok. Tembok itu lalu berubah menjadi ruang yang amat lapang. Dan ditengah-tengahnya ada sebuah meja bertaplak putih bersih. Di tengah-tengahnya nampak beberapa piring porselen yang berisi makanan kesukaannya. Ada bernebon, ayam panggang rica dan berbagai macam kue seperi panekuk kesukaannya dan juga buah-buahan. Dan, hmm, sungguh lezat aromanya. Dia lalu mengulurkan tangan untuk meraih makanan kesukaanya tetapi mendadak segalanya sirna kembali. Korek itu telah padam. Yang disentuhnya hanya dinding yang keras dan dingin.

Dia lalu menyalakan koreknya yang ketiga. Dia lalu merasa berada di bawah sebuah pohon Natal yang besar dan indah. Pohon Natal terindah yang pernah dilihatnya. Ratusan lilin kecil nampak berkedap-kedip pada dahan dan rantingnya, di sela-sela selimut daun yang hijau rimbun. Sungguh menakjubkan. Dengan rindu dia mengulurkan tangannya untuk memegang pohon tersebut. Tetapi sesaat saja segalanya pun menghilang. Koreknya telah padam dan yang dilihatnya kini hanya tetesan air hujan dari langit yang kelam.

Demikianlah gadis itu terus menyalakan batang-batang korek yang membawa hidupnya ke alam mimpi yang tak pernah dialaminya. Pada batang terakhir muncullah seorang ibu berparas lembut, mengenakan sutera putih berikat biru dan menggendong seorang bayi yang bercahaya, datang menghampirinya. Ah pikirnya, �Aku pernah melihat Ibu ini di dalam gereja Tuhan� Dia ingat waktu kecil dulu, saat ayahnya belum menjadi pemabuk seperti sekarang ini, sesekali dia dibawa ke gereja tersebut. Dengan takjub dia memandangi wajah lembut itu. Dan tiba-tiba dia melihat bayi di gendongan Ibu itu tersenyum lembut kepadanya. Dengan perasaan amat riang dia bangkit berdiri dan berlari memeluk mereka��..

Keesokan harinya, Tahun Baru, tubuh gadis itu ditemukan meringkuk oleh orang-orang yang lewat. Maka berkerumunlah mereka disekitarnya. Kasihan kata seorang ibu, Pasti dia mati kedinginan. Bodoh amat seru seorang bapak mencemooh, Berkeliaran sendirian dalam hujan�. Tetapi dia nampak bahagia bisik seorang gadis, Lihat senyumnya, seakan dia melihat sesuatu yang kudus sebelum meninggal

Dan di dalam Gereja Tuhan, koster yang sedang membersihkan ruangan sedang mengomel. Siapa lagi yang bermain-main di sini Dia melihat ke patung Maria yang menggendong Yesus, basah kuyup. Airnya menetes-netes ke lantai. Lamat-lamat dari kejauhan, sekelompok Suster Biara bernyanyi: Agnus Dei, Qui Tollis Peccata Mundi. Miserere Nobis

Diadaptasi amat bebas dari Hans Christian Andersen Fairy Tales

KETIKA ANDA JATUH CINTA0

Posted by Administrator in K (Friday June 23, 2006 at 10:27 am)

KETIKA ANDA JATUH CINTA
Menghilangkan Prasangka Mitos Yang Membuat Anda
Bingung

Ini adalah bagian ketiga dari seri 10 artikel perubahan hidup yang ditulis oleh Bo Sanchez dalam
FILL YOUR LIVE WITH LOVE Diambil dari Kerygma No 191 Vol.16 – Juni 2006, hal. 12-15, oleh Bo Sanchez.

Mitos 1 : “CINTA AKAN MENGUASAI SEGALANYA”

Ini adalah mitos yang rumit. Karena cinta - seperti yang didefinisikan di alkitab – akan menguasai
segalanya. Tetapi cinta – seperti yang didefinisikan pasangan bermata kaca – tidak demikian. Jika anda percaya mitos ini, anda akan melakukan hal berikut :

1. Anda mengabaikan sebagian besar rintangan dalam hubungan anda. Semua yang anda kenal bertanya mengapa anda memilih makhluk dari luar angkasa itu sebagai pacar anda.
Sahabat anda menyarankan untuk menyingkirkan dia. Keluarga anda menyarankan untuk melempar dia dari kendaraan. Pemilik toko seberang jalan menyarankan anda untuk menaruh racun dalam minuman dia. Tapi anda menolak – karena anda jatuh cinta. Itulah sebabnya ada
lagu yang berjudul “Engkau dan aku melawan dunia”. Sahabat anda berkomentar, “Tetapi dia telah menjadi pengangguran selama 3 tahun ini!”. Dan anda berkata, “Dia berjiwa bebas. Dia merasa terkurung ketika dia berada di dalam kantor. (Dengan kata lain, dia adalah
seorang yang tidak disiplin, gelandangan yang malas). Teman kantor anda berkata, “Dia selalu menggoda wanita lain!” Dan anda berkata, “Tidak, dia hanya bersikap ramah.” (Dengan kata lain, dia adalah seorang penggoda). Sepupu anda berkata, “Dia memakai obat terlarang. Dia memiliki bekas lubang jarum di sepanjang lengannya.” Dan anda berkata, “Tidak. Dia menyumbang darah ke PMI.” (Ouch).

2. Anda bertahan dalam hubungan beracun, dengan harapan cinta anda akan mengubah dia. Pernikahan tidak mengubah siapapun. Bahkan jika 3 Paus memimpin pernikahan tersebut. Orang yang anda bawa ke dalam gereja akan menjadi orang yang sama yang anda bawa keluar gereja. Dia tidak berubah sedikitpun. Faktanya, pernikahan memperlihatkan lebih nyata hal yang tersembunyi. Jika dia egois sebelum dia menikah, dia akan lebih egois setelah menikah. Jika dia suka mengkritik sebelum dia menikah, dia akan lebih banyak mengkritik setelah menikah. Inilah kebenarannya : Anda memerlukan lebih dari perasaan cinta untuk menjalin hubungan. Anda perlu karakter dewasa, komitmen penuh dan kecocokan yang minimal. Terutama kecocokan dalam area nilai dan misi hidup. Saya mendengar orang berkata, “Kami cocok. Nama kami bermula dari huruf yang sama yaitu J. Nama saya Julie dan nama dia Julio. Kami sama-sama lahir di bulan Juli.” Wow. Hal itu sangat menyentuh, saya ingin menangis.

Mitos 2 : “JIKA ITU ADALAH CINTA SEJATI, ANDA AKAN
TAHU DI SAAT ANDA BERTEMU DENGANNYA”

Saya yakin anda pernah mengalami hal ini. Anda berada dalam ruangan penuh orang. Anda dikelilingi oleh percakapan yang membosankan dan berisik ketika tiba-tiba, seorang pria tampan masuk. Mata anda saling bertatapan. Seketika, waktu terasa berhenti. Alam semesta berhenti bergerak. Semua penglihatan anda seakan kabur kecuali pria yang menarik yang ada didepan anda. Keributan keramaian menjadi tenang dan ,entah darimana, anda mendengar musik biola yang lembut. Satu minggu kemudian, dia menjadi pacar anda. Beberapa minggu kemudian, anda menemukan bahwa pacar anda adalah seorang pembohong, terlibat hutang kartu kredit, meminjam uang dari semua pacarnya ( anda adalah pacar kedelapan selama enam bulan). Pikiran
anda berkata, “Putuskan dia.” Hati anda berkata, “Tapi itu adalah cinta pada pandangan pertama!” Berikut adalah konsekuensinya :

1. Anda terfokus dengan keajaiban moment pertama, sehingga anda menjadi buta dengan sisi gelap dari hubungan. Enam dari tujuh hari seminggu , anda bertengkar dengan pacar anda. Tapi anda tidak bisa melepasnya karena anda bertemu dalam moment yang ajaib. Kunci mobil anda jatuh dan dia mengambilnya untuk anda, lalu mata anda saling bertatapan, anda mencium deodorannya, dan anda menjatuhkan kunci anda kembali. Bagaimana mungkin anda tidak ditakdirkan satu sama lain?

2. Anda menjadi seorang pecandu cinta pada pandangan pertama sehngga anda melewatkan “hal yang sebenarnya”. Seorang wanita pintar berkata kepadaku, “Bo, ada seorang pria yang mendekati saya. Dia baik, dia bertanggungjawab, dia mempunyai pekerjaan bagus.” “Saya bisa mendengar kata ‘tapi’”,kataku. “Tapi saya tidak merasakan kilauan cahaya.” ,katanya sambil menggigit bibir. “Tidak ada musik biola yang mengalun ya ?”, kataku. “Tidak ada. Ketika saya melihat dia, musik latar yang terdengar adalah lululalu-lalulalulalei.” “Dengar. Anda tidak
memerlukan moment pertama yang ajaib untuk bertemu dengan calon suami anda. Hal-hal yang penting adalah karakter dewasa, tanggung jawab keuangan, kemampuan untuk berkomitmen, misi dan nilai hidup yang cocok.” Saya kembali bertemu dengan wanita ini pada pernikahan dia, dan sebelum dia berjalan menuju altar, dia berbisik kepadaku, “Apakah kamu mendengar musik biola, Bo? Sangat keras dan jelas.” Mencari pasangan tidak harus menjadi cinta pada pandangan pertama. Faktanya, pernikahan dengan sedikit penyesuaian adalah pernikahan antara teman yang sudah saling kenal selama bertahun-tahun sebelum mereka menyadari mereka adalah pasangan pernikahan yang cocok. Apa itu cinta pada pandangan pertama ? Kerap kali, itu adalah nafsu pada pandangan pertama. Atau kegila-gilaan pada pandangan pertama. Jangan terlalu bergantung pada hal demikian. Kebenarannya adalah : Diperlukan sesaat untuk merasakan kegila-gilaan tapi cinta sejati memerlukan waktu seumur hidup.

Mitos 3 : “JIKA ITU ADALAH CINTA SEJATI, MAKA ANDA
AKAN MERASAKAN HAL YANG SAMA SELAMANYA”

Tidak, anda tidak akan. Berikut konsekuensi jika anda mempercayai mitos ini :

1. Anda panik ketika perasaan itu menghilang, dan berpikir apakah pernikahan anda telah berakhir dan apakah anda benar-benar mencintai sejak awal. Bayangkan malam ketika bulan madu anda. Istri anda sedang tidur. Gorden katun berayun ditiup udara dingin. Anda memandang wajahnya. Anda mengamati pipinya dan bulu matanya. Dan juga hidungnya. Bibirnya. Dan tiba-tiba dia mendengkur ,” Ngggggoork.” Bagaimana anda bereaksi? Karena saat itu adalah bulan madu anda, anda berkata, “Betapa lucunya.” Enam bulan berlalu, skenario yang sama terjadi lagi. Istri anda sedang tidur. Dan gorden yang sama berayun ditiup udara dingin. Dan anda medengar dia mendengkur, “Ngggggoork”. Apa yang anda katakan ? “Ssstttttttt, Sayang! Kamu terdengar seperti kapal laut!” Apa yang telah terjadi ? Perasaan itu telah pergi. Dengarlah tanggapan saya : Itu adalah hal yang normal. Itu terjadi pada semua orang. Tapi itu tidak berarti cinta anda telah lenyap. Jadi jangan panik ! Anda bisa mengambil keputusan untuk mencintai kapal laut yang mendengkur.

2. Anda mulai menyalahkan pasangan anda atas hilangnya perasaan cinta.
Ini hal yang sangat gila. Namun banyak orang melakukannya : Ketika kita tidak merasakan cinta, kita berpikir itu adalah kesalahan pasangan. Dan kemudian kita bertengkar. Sekali lagi, kita kehilangan cinta karena kita adalah manusia. Itu bukan salah siapapun. Saat anda kehilangan cinta, pekerjaan dimulai. Biarkan saya menjelaskan. Ini adalah hal yang paling penting yang akan saya utarakan (Saya mendapatkan ini dari Scott Peck dari buku terlarisnya, The Road Less
Travelled). Jatuh cinta bukanlah cinta. Inilah sebabnya, ketika anda jatuh cinta :

a. Tidak memerlukan keputusan. Jatuh cinta terjadi begitu saja.
b. Tidak memerlukan usaha. Jatuh cinta itu seperti, ya jatuh.
c. Tidak memerlukan kerja keras. Jatuh cinta itu seperti disengat oleh serangga cinta.

Di lain pihak, cinta sejati memerlukan tiga hal tersebut : keputusan, usaha dan banyak kerja keras. Di dalam alkitab, cinta adalah perintah. Anda yang membuat cinta terjadi. Jadi cinta sejati
dapat terjadi setelah anda tidak jatuh cinta. Ketika anda memilih untuk mencintai walaupun anda tidak ingin melakukannya – itulah cinta sejati. Dan itulah dasar dari pernikahan yang kekal.

Mitos 4 : “PASANGAN ANDA AKAN MELENGKAPI ANDA SEPENUHNYA”
Sekali lagi, karena jatuh cinta memuaskan anda sepenuhnya – anda menginginkan kepuasan itu untuk selamanya. Itu tak akan terjadi. Konsekuensinya ? Anda akan gagal mengenali hubungan yang baik karena pasangan anda tidak memenuhi keperluan yang seharusnya anda penuhi sendiri. Inilah kebenarannya :
Pasangan yang tepat akan memenuhi sebagian besar kebutuhan anda tetapi tidak semuanya. Ada beberapa hal yang tidak bisa diberikan oleh suami anda. Harga diri anda. Hidup rohani anda. Kebahagiaan pribadi anda. Ini adalah hal-hal yang anda harus usahakan sendiri. Saya telah bertemu dengan banyak orang yang berpikir mereka tidak puas dengan pernikahan mereka. Pada kenyataannya, mereka tidak puas dengan diri mereka sendiri. Saya telah bertemu dengan banyak orang yang berpikir mereka bosan dengan pernikahan mereka. Dan mereka mengeluh betapa membosankannya suami atau istri mereka – dalam kenyataan, mereka bosan dengan hidup mereka. Penuhilah kebutuhan anda sendiri. Carilah kebahagiaan anda bersama Tuhan. Temukan tempat anda, panggilan anda, takdir anda. Lalu bagikan kebahagiaan
anda dengan pasangan anda.

Mitos 5 : “JIKA ITU ADALAH CINTA SEJATI, MAKA ANDA TIDAK AKAN TERTARIK DENGAN ORANG LAIN LAGI”

Jika anda percaya mitos ini, anda akan panik ketika anda tertarik kepada orang lain, mempertanyakan cinta yang anda miliki untuk pasangan anda. Seorang pria berkata padaku, “Bo, saya mencintai istri saya. Atau saya berpikir demikian. Tapi saya bertemu seorang wanita di kantor saya. Dia berdandan dengan bagus. Dia wangi. Dia memakai rok pendek dengan belahan. Ketika saya pulang, istri saya memakai kain yang menjemukan. Rambutnya tidak tertata. Dia berbau cuka. Aduh, apakah saya tertarik dengan wanita di kantor ?” Tetarik dengan orang lain adalah normal – bahkan jika anda mempunyai pernikahan yang bahagia. Tetapi tertarik dengan orang lain bukan berarti jatuh dalam perzinahan. Setiap kali anda memikirkan wanita lain, disiplinkan hati anda dan katakan, “Rumah ! Rumah!” dan pimpin hati anda kembali pada istri anda. Karena jika anda menambahkan ketertarikan anda dengan fantasi dan terus memikirkan wanita lain, hal itu akan bertumbuh. Tetapi jika anda mengabaikan ketertarikan anda, hal itu akan reda secara alami.

Biar saya akhiri dengan berbagi sebuah doa untuk mereka yang masih jomblo.
Doakan ini dengan sepenuh hati anda.

DOA ORANG LAJANG

Tuhan, Engkau menciptakan aku untuk mencintai.
Engkau menciptakan aku untuk menjadi seorang pecinta.
Apakah itu menjadi seorang pecinta dalam penikahan
atau sebagai seorang selibat, itu terserah Engkau.
Tapi aku akan menjadi seorang pecinta tiap hari dalam hidupku.
Dan aku akan melakukan apa saja dari keputusanku untuk
mencintai dari hati.

Amin.

Langkah-langkah Bo:
1. Renungkan pengalaman “jatuh cinta” masa lalu anda. Apakah anda bersikap bijaksana atau bodoh ? Mengapa? Apa pelajaran yang anda ambil ?

2. Jika anda sekarang berada dalam pertunangan atau hubungan yang mantap, apakah anda merasa bersikap benar terhadap pengalaman “cinta” anda ? Mengapa?

3. Jika anda sudah menikah, apakah anda menjaga pernikahan dan hati anda dengan hidup anda? Bagaimana cara anda melakukannya?

Diambil dari Kerygma No 191 Vol.16 – Juni 2006, hal. 12-15, oleh Bo Sanchez.