Archive for August, 2006

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba
mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun- tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama,saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah
memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air
mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat
dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika
memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan
saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu
gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak
hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan
kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku
seperti sungai.

Sumber: Diterjemahkan dari “I cried for my brother six times”

Share Button

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, ”berapa lama lagi kamu baca koran itu? tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.” Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya
banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak ,nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.” Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak
hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta…” agak ragu2 sejenak… “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab,
“Oh pasti sayang”.

Sindu tanya sekali lagi,
“betul nih ayah?”

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang
memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya,dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin
pada hari Minggu. Istriku spontan berkata, “permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak
mungkin!” Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, “tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan
kami.” Sindu dengan menangis berkata, “ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala )untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya
sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “apakah aku sudah gila?” “Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.”

“Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “anak anda ,Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak
saya, dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

Share Button

Asap rokok memenuhi ruang tamu. Orang yang duduk di depanku menatap gelisah. Jari-jari tangannya yang gemetar, sehingga rokok yang ada terselip diantara jarinya tampak bergerak – gerak. Aku duduk diam. Sudah setengah jam aku berusaha untuk memahami apa yang bergolak dihatinya. Tentang kekecewaanya pada TUHAN. Aku tidak tahu apalagi yang bisa aku katakan. Setiap apa yang aku katakan selalu disanggah dengan penuh kemarahan. Akhirnya aku mengalah dan diam. Dia hanya butuh orang yang mau mendengarkan kegelisahan hatinya.
Dia tidak membutuhkan nasehatku. Orang ini sedang mengalami musibah besar. Dia adalah orang seorang pekerja yang baik, penuh semangat dan punya aneka angan-angan masa depan yang mengagumkan. Suatu hari dia mendapat sebuah proyek besar. Ini sebuah kesempatan untuk lebih maju. Maka dia mencurahkan semua tenaga dan kemampuannya dalam proyek itu. Dia memperhitungkan secara detil mengenai segala sesuatu. Celah-celah yang dianggapnya bisa menjadi penyebab kegagalan sudah diantisipasi. Dia yakin bahwa rencanya ini pasti akan berhasil, maka semua apa yang dimilikinya dipertaruhkannya.

Namun ternyata ada kesalahan kecil yang fatal akibatnya proyeknya gagal total. Dia kecewa mengapa bisa gagal? Dalam keputusasaanya dia mencari siapa yang bersalah dalam hal ini.

Akhirnya dia menyalahkan TUHAN.

Aku tanya bukankah dia bisa bangkit kembali? Dengan pedih dia mengatakan bahwa bisa tapi namanya sudah hancur. Dia malu sekali. Orang akan mengejeknya sebagai orang gagal. Aku tanya apakah sudah ada orang yang berkata demikian? Dia mengatakan belum tapi pasti suatu saat perkataan itu akan didengarnya. Orang akan mengejeknya. Dirinya tidak akan berharga lagi.

Aku tetap diam. Pikiranku bergulat sendiri. Mengapa sebuah persoalan dapat membuatnya begitu frustasi? Apakah hidup yang panjang ini hanya ditentukan oleh kegagalan sebuah persoalan? Bukankah masih banyak hal yang bisa dikerjakan?

Setelah diam agak lama orang itu pamit pulang. Aku menghantar sampai pintu. Dalam kesendirian di ruang tamu pikiranku melayang. Mengapa orang tidak bisa pasrah? Aku teringat bagaimana orang tadi begitu cepat bereaksi ketika aku katakan agar dia pasrah. Baginya pasrah adalah kelemahan. Dia bosan dengan kata itu. Bagiku pasrah bukan berarti menyerah kalah, melainkan keberanian menerima aneka realita hidup. Keberanian untuk hidup pada hari ini, bukan pada masa lampau atau masa mendatang. Masa lampau itu sudah berlalu, masa depan itu belum ada. Namun mengapa orang digelisahkan oleh keduanya? Oleh sesuatu yang tidak nyata? Meskipun dia menangis darah, kegagalan itu sudah terjadi. Tangisannya tidak akan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Dia tidak akan mampu mengubah apa yang sudah terjadi.

Dulu aku pernah membaca kemungkinan orang dapat kembali ke masa lalu. Jika orang mampu menciptakan sebuah alat yang dapat berputar melebihi kecepatan putaran bumi maka dia akan dapat terlontar ke masa depan atau masa lalu. Dia akan terlepas dari keterikatan ruang dan waktu.

Namun jika dia mampu kembali ke masa lalu apakah dia akan mampu mengubah rencananya sehingga tidak gagal?

Jika dia mampu mengubah sesuatu di masa lalu apakah tidak akan terjadi kekacauan di dunia saat ini? Keterbatasan inilah yang seharusnya diterima dengan berani. Mengapa dia tidak berani mencari pada kegagalan ini sesuatu yang dapat dijadikannya untuk meraih keberhasilan? Bagiku tidak ada ketotalan, maka dalam kegagalanpun pasti masih ada celah untuk berhasil. Kata orang nasi sudah menjadi bubur. Apakah orang akan terdiam, memaki dan menangisi semua itu? Mengapa tidak menjadikan bubur itu sebagai bubur ayam atau bubur merah yang dibutuhkan untuk kenduri? Bukankah bubur juga masih dibutuhkan orang? Orang tadi juga mencemaskan bahwa besok orang akan mengejeknya. Mengapa mencemaskan besok? Bukankah besok dan kemungkinan itu belum terjadi? Mengapa orang digelisahkan oleh sesuatu yang belum terjadi? Aku ingat cerita de Mello tentang seorang yang akan dihukum mati pada keesokan harinya. Semalaman dia gelisah mengingat besok akan mati. Namun akhirnya dia pasrah, sebab dia gelisah atau takutpun kematian harus dijalaninya esok hari. Maka dia berusaha menikmati sisa hidupnya yang sempit. Ini menimbulkan kegembiraan. Mengapa orang terbeban akan hari esok yang belum ada? Apakah dia yakin bahwa esok dia masih hidup? Buat apa menggelisahkan hari esok jika ALLAH sendiri belum memberikan jaminan pasti bahwa orang akan sampai pada hari esok. Dalam hal inilah aku rasa pentingnya pasrah. Keberanian untuk menerima masa lalu dan hidup masa kini tanpa digelisahkan oleh masa
mendatang.

Orang tadi mempertanyakan apakah ALLAH ada?

Ya, pertanyaan ini sering kali muncul pada orang yang sedang dalam penderitaan. Kegagalannya membuat orang itu menggugat Allah. Mengapa orang menjadi ingat ALLAH disaat dia masuk dalam masa gelap? Adilkan dia kalau menuntut ALLAH untuk berlaku adil? Pada saat dia membuat rencana, ALLAH tidak dilibatkan. Dia merasa dengan apa yang dimilikinya mampu menyelesaikan masalahnya, namun setelah tidak mampu maka dia menyalahkan ALLAH. Jika dia tidak memasukan ALLAH dalam rencananya mengapa dia sekarang menuntut ALLAH.

Dalam hidup sehari-hari ALLAH sering menjadi kernet. Sedangkan manusialah sopirnya. ALLAH hanya dimasukan dalam rencana manusia, padahal ALLAH adalah Mahakuasa yang mempunyai rencana yang jauh dari kemampuan akal budi dan perhitungan manusia. Orang tidak mau mencari kehendak ALLAH, sebab dia sibuk dengan kehendaknya sendiri. Orang tidak mau mencari tahu rencana ALLAH sebab dia sudah yakin akan rencana hidupnya sendiri. Orang tidak berusaha menjalankan rencana ALLAH, sebab dia tidak melihatnya. Orang hanya melibatkan ALLAH dalam rencananya. Orang tadipun mengatakan bahwa sebelum dia melakukan rencananya dia sudah berdoa novena agar semuanya berhasil. Bagiku dalam hal inipun dia hanya memasukan ALLAH sebagai pendukung rencananya. ALLAH tetap sebagai kernet yang dibutuhkan ketika dalam menghadapi bencana atau untuk mendukung keinginan. Jika demikian mengapa ALLAH dimintai tanggungjawab?

Dalam hal ini memang dibutuhkan kerendahan hati. Sikap untuk mencari kehendak ALLAH. Orang tadi bertanya bagaimana dia bisa melihat kehendak ALLAH? Yesus pun pernah bersabda bahwa orang bisa melihat kalau ada awan maka akan turun hujan. Orang mampu meramalkan tanda-tanda alam. Ini diperoleh dari pengalaman hidup. Jika dari hidup orang mampu meramalkan kehendak alam, mengapa dia tidak mampu meramalkan kehendak ALLAH? Apakah ALLAH tidak pernah menunjukkan tanda-tanda-NYA dalam hidup? Aku yakin pasti sudah. Hanya saja orang tidak serius mencari kehendaknya. Orang tidak mau dengan rendah hati melihat semua peristiwa hidup dalam kaca mata ALLAH. Orang mengabaikannya dan melihat segala sesuatu sebagai hasil usahanya.

Kepasrahan bukan hanya keberanian untuk hidup saat ini melainkan juga keberanian memposisikan ALLAH sebagai sopir dan memposisikan diri sendiri sebagai kernet. Orang yang mengikuti kehendak ALLAH dalam hidupnya. Namun ini masih butuh perjuangan. Seandainya saja orang tadi mau berpasrah mungkin dia tidak perlu gundah gulana seperti saat ini. Dia akan tetap bersemangat untuk berjuang mempersiapkan hari esok dengan penuh kegembiraan. Dia tidak akan putus asa dan meratapi masa lalu atau kegelisahan masa datang. Semua dikembalikan pada ALLAH, sebab dia hanya seorang kernet.

TUHAN Memberkati

Share Button