Archive for October, 2006

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati tapi dengan tanpa berkata-kata dia menulis di atas pasir; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambi l tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik dengan pasangan, suami / isteri, kekasih, adik / kakak, kolega, dll,karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Manfaat positif dari continuous relationship mungkin sekali jauh lebh besar ketimbang kekecewaan masa lalu. Nobody’s perfect. Belajarlah menulis di atas pasir.

Share

Hari ini rasanya sungguh aneh. Yulia merasa dikelilingi oleh berbagai kejadian yang mirip antara satu dengan yang lainnya. Yulia teringat kejadian kemarin waktu dia pergi ke sebuah mal. Ketika sedang turun melalui tangga berjalan, di hadapannya terdapat seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil. Ibu itu berdiri di depan, anaknya di belakang bersama seorang babysitter. Anak ini memegang kantong makanan ringan yang sudah dibuka di tangan kirinya. Agak kerepotan juga karena lengan kirinya dipegangi sang babysiter. Tangan kanannya berusaha memegangi kantong makanan ringan tersebut.

Ibunya kemudian menoleh ke belakang dan berkata:”Sini kantong makanannya, ibu bawakan. Biar tidak repot.” Anak itu ragu-ragu sejenak. Tapi setelah berpikir sebentar, dia mengulurkan tangannya sambil berkata:”Jangan dimakan!”. “Nggak”, kata ibunya. Anak itu percaya perkataan ibunya dan menyerahkan kantong makanannya. Tapi Yulia kaget ketika melihat sang ibu langsung mengambil dan memakannya. Anak kecil itu berteriak:”Jangan dimakan!”. Si ibu hanya tertawa.

Sesampainya di bawah, anak kecil tadi merebut kembali kantong makanan dari tangan ibunya sambil marah-marah. Yang membuat Yulia sedih, Yulia melihat ekspresi kekecewaan dalam diri anak tersebut. Janji ibunya yang dipercayainya, ternyata tidak ditepati.

Mungkin bagi sang ibu, kejadian itu dianggap lucu. Tapi bagi si anak, hatinya luka dan kecewa. Apa arti sebuah janji kalau tidak bisa dipercaya? Kalau lain kali ibunya berjanji seperti itu lagi, apakah anaknya bisa percaya?

Ingkar janji

Yulia teringat ketika dia dulu masih kecil. Kebetulan Yulia senang ilmu bela diri. Yulia memiliki seorang paman yang sangat baik. Suatu kali pamannya ini membicarakan ilmu bela diri Yulia. Pamannya kemudian ingin mengukur kekuatan pukulan Yulia. Beliau meminta agar
Yulia memukul lututnya. Yulia menolak karena tidak ingin menyakiti lutut pamannya. Tapi pamannya meyakinkannya bahwa beliau tidak akan sakit.

Dari bimbang, akhirnya Yulia percaya penuh pada pamannya. Dia pun mengepalkan tinjunya yang kecil dan memukul lutut pamannya dengan keras. Tepat pada saat tinjunya hampir mengenai lutut sang paman, beliau menggerakkan lututnya dan menghindar. Kepalan tangan Yulia membentur pinggiran kursi yang terbuat dari kayu. Sakitnya bukan kepalang. Tapi, yang lebih sakit lagi adalah hatinya. Yulia sangat kecewa karena pamannya ternyata menipunya. Dia sudah menaruh kepercayaan penuh pada pamannya, tapi sang paman mengkhianatinya. Tapi pamannya terus tertawa karena menganggap kejadian itu lucu. Sungguh menyakitkan hati.

Rina, rekan kerja di ruang sebelah juga sedang menggerutu. Rina sudah lama berteman dengan Meri. Kemarin Meri pindah rumah. Rina yang sudah pernah merasakan repotnya pindah rumah berniat membantu Meri. Karena itu Rina mengatakan agar Meri tidak perlu khawatir. Rina pasti akan membantunya membereskan barang-barang di rumah barunya. Tapi kemarin Rina sibuk sekali di kantor. Karena itu, sorenya Rina malas ke rumah Meri. Ternyata Meri menelepon dan menanyakan mengapa Rina tidak datang. Meri menagih janji Rina.

Tapi rupanya Rina tidak suka. Memangnya saya berutang pada Meri?
Katanya. Yulia menjawab :”Janji adalah utang.”

Ferdi tadi menelepon. Dulu Ferdi bekerja di kantor tempat Yulia bekerja. Sudah dua tahun dia di sana. Kemudian dia pindah bekerja di perusahaan lain. Baru dua minggu dia bekerja di perusahaan yang baru itu. Ketika akan masuk kerja, dia dijanjikan mobil dan jabatan yang tinggi. Tentu saja Ferdi senang sekali bekerja di perusahaan tersebut.

Tapi ternyata fasilitas yang sudah dijanjikan tidak sesuai. Tak ada mobil. Ketika Ferdi menagih ke atasannya sesuai janjinya, malah beliau tersinggung. Katanya, dia kan tidak berutang apa-apa? Lagipula belum kelihatan hasil kerjanya kok minta mobil. Kalau ternyata perusahaan berat memberikan mobil, mengapa dulu begitu mudah mengucapkan janji? Bukankah janji adalah utang?

Di bagian penjualan, pagi tadi ada pelanggan yang marah-marah karena salah seorang karyawan berjanji akan datang pukul sembilan sambil membawakan formulir pesanan, ternyata hingga dua hari dia tidak muncul. Ada juga yang marah-marah karena bagian penjualan berjanji akan menelepon sepuluh menit lagi, eh ternyata sudah satu jam tidak juga menelepon. Padahal orang tersebut sudah menunggu di samping pesawat telepon.

Hari ini Yulia belajar sesuatu. Sebagian orang sangat meremehkan janji. Padahal janji adalah utang yang harus ditepati. Yulia berniat tidak akan terlalu mudah mengucapkan janji. Dia sadar kadang-kadang janji diucapkan hanya untuk menunjukkan pada orang lain bahwa dia baik. Tapi Yulia diingatkan, bukan janji yang membuat orang kagum pada kita. Tapi menepati janji yang pernah diucapkan jauh lebih berharga. “Janji adalah utang”. Keep your promise!

Share

1. Pelajaran Penting ke-1

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Professor memberikan quiz mendadak pada kami.
Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz sampai pada soal yang terakhir.

Isi soal terakhir ini adalah :
Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ?

Saya yakin soal ini cuma bercanda. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi,berambut gelap Dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya… ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong.

Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Professor itu mengenai soal terakhir akan ‘dihitung’ atau tidak. “Tentu saja dihitung !!” kata is Professor. “Pada perjalanan karirmu, kamu akan bertemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu perhatikan Dan pelihara walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman,atau sekilas say “hallo”!

Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.

2. Pelajaran Penting ke-2

Penumpang yang kehujanan malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita Negro rapi yang sudah berumur sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak Dan perempuan ini sangat ingin numpang Mobil.

Dalam keadaan basah kuyup, IA mencoba menghentikan setiap Mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya is pemuda bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, pada saat itu.

Pemuda bule ini akhirnya membawa is ibu Negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan is ibu ini taksi.

Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, is ibu tadi bertanya tentang alamat is pemuda itu. Pemuda itu menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada is pemuda.

7 Hari berlalu Dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an) khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah :

“Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku.Untung saja anda datang Dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat… Hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya Dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu”

Tertanda , Ny. Nat King Cole. (Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi Negro tenar thn. 60-an di USA)

3. Pelajaran penting ke-3

Selalulah perhatikan Dan ingat, pada semua yang anda layani…

Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel Dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri Dan memberikan air putih dihadapannya.

Anak ini kemudian bertanya “Berapa ya,… Harga satu ice cream sundae?” katanya.

“50 sen…” balas is pelayan.

Is anak kemudian mengeluarkan isi sakunya Dan menghitung Dan mempelajari koin-koin di kantongnya….”Wah… Kalau ice cream yang biasa saja berapa?” katanya lagi.

Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak… Dan pelayan ini mulai tidak sabar.

“35 sen” kata is pelayan sambil uring-uringan.

Anak ini mulai menghitungi Dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. “Bu… Saya pesen yang ice cream biasa saja ya…” ujarnya.

Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja Dan terus melengos berjalan.

Is anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, Dan pergi.

Ketika is Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja is anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, Ada 2 buah koin 10-sen Dan 5 buah koin 1-sen.

Anda bisa lihat… Anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang “layak”…….

4. Pelajaran penting ke-4

Penghalang di Jalan Kita…

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah Ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.

Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba di tempat untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak Ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya Dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong Dan mendorong, akhirnya IA berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika is petani ingin mengangkat kembali sayurnya,ternyata di tempat batu tadi Ada kantung yang berisi banyak uang emas Dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti.

Bahwa pada dalam setiap rintangan,tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

5. Pelajaran penting ke-5

Memberi ketika dibutuhkan…

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuhnya hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.

Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata

“Baiklah… Saya akan melakukan hal tersebut…. asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”.

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,di samping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar…katanya “Apakah saya akan langsung mati dokter?”

Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.

Lihatlah…bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya….

Share