Bandung 1991

Pulang kuliah. Didn’t what to do.

Gue bukan tipe perempuan tukang nge-mall dan tukang belanja. I was always broke.

Bagaimana lah layaknya mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua, tanggal 20 itu cakep banget kalau masih punya uang. Gue juga kebetulan bukan tipe anak yang nipu2 orangtua. Yah dikit2 mah pasti lah (who doesn’t?) tapi gak seperti temen gue yang tega banget bilang kepada orangtuanya yang sedang nggarap sawah di kampung, “Bu, perlu uang buat bayar SPP Rp. 1.000.000.” Dasar sedeng! Padahal Tahun 1991 di UNPAD itu uang spp cuma Rp. 90.000,- /semester. Pantes aja banyak orangtua yang ngomong kuliah itu mahal sekali sehingga merasa gak sanggup memasukan anaknya ke Universitas, padahal mereka denger ceritanya dari temen mereka yang ditipu mentah2 oleh anaknya yang kuliah di Bandung/Jakarta/Yogya/Surabaya (pilih sendiri).

Anyway, that’s a whole different story..gue ceritain kapan2 yah soal kegeraman gue sama temen2 gue yang doyan nipu.

Gue jalan dari Balubur, habis nyari buku, ke daerah dekat jalan Merdeka. Gue lupa nama jalannya. Tiba2 gue sadar gue berdiri di depan satu Panti Asuhan. Panti Asuhan Bayi dan anak Muhammadiyah tepatnya.

Gak tau angin dari mana, tiba2 gue pengen masuk.

Begitu menjejakkan kaki di pintu, gue mencium aroma Minyak Telon. Hmm this is the ultimate aroma for aromatherapy buat ngilangin stress. Gak usah minyak mahal2, nyium bau Minyak Telon dan Minyak Kayu Putih udah bisa meninggalkan effek calming yang bukan main buat gue.

Seorang Ibu mungkin dari bagian administrasi menatap ke arah gue dengan tatapan ingin tau.

“Neng, nyari siapa?”

“Bukan nyari siapa2 Bu..cuma tiba2 kok pengen lihat bayi2 di sini..”

“Silahkan aja masuk ke dalam, Neng..bebas kok..”

Gue masuk ke dalam RUANG BAYI 1, tepat di sebelah Ruang Administrasi.

Begitu masuk, gue dihadapkan dengan sekitar 8 box bayi yang berjejer di dalamnya.

Hati gue tercekat. Begitu banyakkah orangtua yang tega membuang bayinya yang baru lahir??

Tatapan mata bayi2 berusia 2 minggu-10 bulan itu langsung membuat gue jatuh cinta seketika. What’s wrong with their parents???

Tidakkah mereka sadar bahwa mereka sudah membuang kesempata n berharga untuk melihat senyum mereka??

Satu persatu bayi2 tersebut gue hampiri dan gue belai2 rambutnya.

Tiba2, seorang Ibu masuk ke dalam ruangan tsb, sambil membawa baskom air.

“Neng mau gendong? sok ajah kalau pengen gendong. Mereka semua haus kasih sayang, Neng..”, kata Ibu itu sambil mempersiapkan 1 bayi untuk dimandikan.

Gue langsung mengambil bayi laki2 berumur 2 minggu yang paling dekat dengan gue. Gue belum berani menggendong bayi yang lebih besar,takut berontak.

Ibu itu menatap gue sambil memandikan 1 bayi perempuan yang kira2 berumur 6 bulan.

“Neng, maaf kalau Ibu lancang ya…apakah Neng ini…..sedang hamil?”

Gue tertegun mendengarnya.

“Ahh enggak Bu…Gak tau kenapa saya pengeeen sekali masuk tadi pas lagi nunggu angkot di depan.”

Si Ibu tersenyum.

“Duh maaf ya Neng..habis biasanya perempuan muda yang datang ke sini cuma yang mau ngasih bayinya yang hasil kecelakaan..”

“Gusti, Ibu..saya teh emang bukan malaikat, tapi kalau saya sampe ngalamin hal kayak gitu, gak mungkin sampe tega saya ngasih ke Panti Asuhan, Bu, “kata gue agak tersinggung.

Si Ibu tersenyum lagi.

“Syukur lah Neng.. buat saya yang paling miris tuh kalau saya harus nambah 1 box lagi di sini. Itu berarti 1 lagi Ibu yang membuang anaknya. 1 lagi anak yang kehilangan kasih sayang Ibunya.”

Gue mengangguk2. Perasaan gue gak keruan. Sambil mikir gue ciumi kening bayi merah di pelukan gue.

Si Ibu beranjak keluar membawa baskom air setelah selesai memandikan bayi perempuan tersebut.

“Neng, kalau Neng mau, masih ada ruang bayi yang lain di belakang. Barangkali Neng mau lihat bayi yang lain.”

Gue tertegun. Masih ada yang lain????? Berapa banyak lagi?????

Gue letakkan si bayi kecil dan berjalan menuju ruang yang bersambungan dengan Ruang Bayi 1. Ruang Bayi 2. Gue memasuki ruangan tersebut.

Lebih besar, ada sekitar 6 box di sana.

Bayi2nya lebih besar sedikit dari bayi di Ruang 1.

Mata gue mulai basah.

Bayi2 itu main sendiri tanpa ada yang menemani. Main boneka di box masing2.Babbling sendiri.

Duh..apa Ibu2 mereka gak pada kangen ya?

Ibu tadi muncul kembali.Mungkin masih belum herannya melihat gue yang entah kenapa kok nyasar ke Panti tersebut tanpa niat apa2.

“Kasian ya Neng..Kalau mereka sudah dipindahkan dari Ruang 1, itu berarti kemungkinan mereka untuk diambil orangtua asuh sudah berkurang, karena umurnya juga sudah lebih besar. Rata2 orangtua asuh cuma mau mengambil bayi yang masih di bawah 6 bulan.”

Gue cuma bisa menatap satu persatu bayi2 tersebut dengan hati sendu. Si Ibu penjaga sih sepertinya sudah membatu hatinya. Cuma memandang gue aja masih dengan tatapan heran. Kok mau2nya kali ya perempuan umur 18-an seperti gue iseng2 dateng ke Panti Asuhan.

Gue beralih ke box terakhir yang di ujung.

Boxnya lebih besar dari yang lain dan usang.

Hati gue seperti mau jatuh ke lantai begitu melihat yang terbaring di dalamnya.

Bayikah dia? Atau anak kecil sekali??

Kalau bayi, kok besar sekali? Kalau anak kecil kok diam saja tidak bergerak sama sekali?

Ibu itu berkata, “Itu Tanti namanya Neng. Umurnya sekitar 4 tahun.

Tapi dia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali. Lumpuh.

Cuma bisa makan makanan bayi saja karena gak bisa ngunyah.Makanya ditaruh di Ruang Bayi.”

Airmata gue turun sedemikian derasnya sampe gue gak bisa melihat jelas. Tanti cantik sekali! Matanya bulat.Bibirnya merah.Dan bulu matanya sangat panjang.Tapi dia juga sangat kurus seperti tengkorak hidup.

“Ada apa dengan dia Bu?”, tanya gue dengan hati gak keruan.

“Ibunya mati2an mau mengugurkan dia sejak umur 2 bulan dalam kandungan. Semua jamu diminum. Tapi Tanti ngotot gak mau keluar. Akhirnya pas umur 8 bulan dia lahir, tapi dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah. Bidan yang menolong sampai shock. Dan si Ibu kabur meninggalkan Tanti di Rumah Bidan tersebut di hari ke 3”

Gue cuma bisa menggenggam tangan Tanti dengan hati patah.

Kasihan sekali kau sayang….Jahat sekali sih Ibumu…

Hari itu gue jatuh cinta pada seorang anak bernama Tanti.

Mulai sejak saat itu setiap pulang kuliah gue selalu ke Panti Asuhan tersebut. Gue harus melihat Tanti setiap hari! Kalau tidak, gue langsung gak enak hati, kangen, dan gak karuan rasa.

Ibu penjaga sudah bilang bahwa Tanti gak bisa apa2 sama sekali.Dan seperti tidak punya emosi. Karena kalau lapar pun cuma nangis lirih tidak ada suara. Mereka sudah putus harapan dengan Tanti, itu kenapa penjaga2 bayi itu tidak ada yang mengajaknya bicara ataupun bermain.

1 minggu. 2 minggu. 2 bulan.

Tiada hari tanpa Tanti buat gue. Setiap hari gue siapkan 2 jam khusus untuk bacain dongeng untuk Tanti. Gue yakin pendengarannya normal karena dia bereaksi dengan mengedip2kan mata kalau gue panggil2 namanya.

Di bulan ke 3 gue dapat hadiah yang tidak terkira berharganya.

Gue sedang bacain cerita lucu. Dan seperti biasa gue menceritakannya dengan heboh.

Tiba2 pas di bagian yang lucu tersebut gue dengar suara seperti Tanti tercekik. Gue buru2 bangun dari duduk dan melihat ke arahnya dengan lebih jelas.

YA ALLAH! TANTI TERSENYUM!!!!!

Gue seperti gak percaya dengan penglihatan gue.

“Tanti!!! Tanti ketawa ya??? Lucu yaaa?,”kata gue sambil loncat2 seperti orang gila.

Gue dengar lagi suara yang aneh itu. Tidak seperti suara tertawa biasa, tapi jelas suara tawa! Mata Tanti tersenyum geli dan gigi putihnya terlihat semua.

YA ALLAH! GUE BENER!!! TANTI PUNYA EMOSI!! DIA TIDAK CACAT 100%!!

Gue lari keluar ruangan.

“BU!!! IBUUUU!!! TANTI KETAWA!!!,”teriak gue.

Ibu2 penjaga berlarian ke Ruang Bayi dan melihat gue dengan pandangan takjub.

Tanti tertawa lagi mendengar gue sibuk bercerita kepada Ibu2 tersebut.

“Neng, aduuhh Neng teh ya. Sabar pisan sama si Tanti sampe dia bisa ketawa begini..”

Gue merasa orang paling bahagia di dunia hari itu. Gue membelai keningnya sambil berkata,

“Tanti, kalau saya nanti punya banyak duit dan jadi orang kaya kamu bakal saya ambil jadi anak!”

Setiap hari gue semakin encourage dia untuk mengeluarkan emosinya. Ternyata otak Tanti tidak cacat. Masih ada yang berfungsi bagian2nya. Gue malah jadi berharap dia bisa bicara…

Sayang Allah SWT tidak mengijikan gue untuk lebih lama mendampingi Tanti.Masalah keluarga dan jadwal kuliah dan tugas yang makin pada membuat gue jadi makin jarang menengok Tanti. Sampai akhirnya di tahun 1992, gue sama sekali gak pernah datang lagi.

Cuma pada sekitar tahun 1996 gue teringat lagi Tanti waktu Mama mau menyumbang ke Panti Asuhan tersebut. Gue yang ngeasih tau Mama soal Panti Asuhan dan Tanti. Dan alhamdulillah kabar dari Mama, Tanti masih sehat.

Terlalu sibuk..terlalu kalut..akhirnya…

Gue lupa dengan janji gue…
———————————————————————–

Singapore 2001

Gue nelpon adik gue, Kuke di Bandung.

Gue minta dia ke Panti Asuhan dan nengok Tanti sekaligus bawa uang sumbangan sekadarnya.

Dari waktu ke waktu gue masih inget Tanti. Tapi kesibukan gue yang luar biasa sejak nikah Tahun 1995, apalagi gue gak tinggal di Bandung, membuat gue gak mungkin menengok Tanti. Apalagi gue sudah punya anak sendiri.

Tapi gue usahain kalau gue punya uang lebih gue sumbangin sedikit uang untuk Panti, dan untuk membelikan sesuatu untuk Tanti.

Besoknya gue nelpon Kuke lagi untuk mengecheck apakah dia sudah ke Panti dan menyampaikan sumbangan sekaligus menengok Tanti.

Gue : Kuk, gimana..uangnya udah dikasihin ke Panti? Tanti gimana.

Kuke: Udah Teh. Kemaren sore.

Gue : Gimana Tanti? Udah bisa apa lagi? Sehat?

Kuke: Teh..Teh..itu..anu lho..sabar ya..

Gue : Kenapa?? Ada apa Kuk??

Kuke : Ehmmm..kata Ibu yang jaga, Tanti sudah meninggal tahun kemaren.

Gue..gak bisa..berkata..apa2..

Entah gue bilang apa waktu menutup telepon. Tersedu2 gue berucap,

Innalilahi Wa Inna Illaihi Rajiun..

Maafkan saya Tanti…Maafkan saya..
Maafkan saya lupa kamu ada..
Maafkan saya terlalu sibuk sampai lupa kamu..
Maafkan saya tidak bisa menepati janji…
Maaf..Maaf..Maaf…

Gue benar2 gak tau..Kalau Tanti tidak bisa berfungsi apa2 dalam hidup. Apa tujuan dia dilahirkan di dunia????

Gue gak tau.

Tapi dalam 1 masa di kehidupan gue, dia menciptakan begitu banyak kebahagiaan di dalam hari2 gue. Gue merasa sangat beruntung bisa bertemu dengannya.

Dan Allah SWT begitu sayangnya pada Tanti sehingga Dia memanggil Tanti di usia 11 tahun. Gue bersyukur di satu sisi. Tanti tidak menderita lagi. Tanti bisa berlari, bermain, tertawa, dan jumpalitan di tamanNYA. Sesuatu yang tidak bisa ia kerjakan di dunia.

Selamat Jalan, Tanti…

Kalau bertemu dengan Sang Pencipta, maukah engkau katakan padaNYA agar kita berdua dipertemukan kembali di surga?? Walaupun saya tau mungkin jangan2saya tidak berhak berada di dalamnya. Tapi saya ingin sekali bisa bertemu denganmu..

Ingin sekali bisa minta maaf karena tidak menepati janji saya padamu..

Berlarilah di sana Tanti..jumpalitanlah..tertawalah yang riang!
Di dalam mimpiku masih kudengar tawamu.
Terima kasih kau pernah mengisi hidupku dengan senyummu…

**pagi hari setelah mimpi Tanti lagi tadi malam.
Maafkan.

from a friend…

dari milis Klub Ayah, Bunda & Anak

Share Button