Menghargai Perbedaan0

Posted by Administrator in M (Thursday January 18, 2007 at 9:08 am)

Suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil waktu dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.

Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, “Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?” Sang nelayan menjawab, “ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba.” “Nelayan bodoh!” kata mahaguru tersebut. “Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu.”

Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. “Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu.” Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.

Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.

Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, “apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?” “Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya.” Jawab sang nelayan. “Apakah bapak bisa berenang?” Tanya sang nelayan.

Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, “Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki.”

Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.

Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat “tahu apa kamu” atau “si anu tidak tahu apa-apa” mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.

Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang ‘luar’ yang hanya tahu ‘kulitnya’ saja.

Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.

Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.

Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.

Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain.

Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain.

Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki.

Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.

Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya.

Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.

Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru?

Bila ya, seberapa sering?

Berani Hidup0

Posted by Administrator in B (Thursday January 18, 2007 at 9:08 am)

“Stop worrying, start living.”
~ Anonymous

“One isn’t necessarily born with courage, but one is born with potential. Without courage, we cannot practice any other virtue with consistency. We can’t be kind, true, merciful, generous, or honest.”
~ Maya Angelou

“Be a warrior, not a worrier.”
~ Jennie S. Bev

Banyak lagu di Indonesia yang bertemakan kesedihan dan kenestapaan… “Betapa kasihannya diriku karena aku orang miskin dan tidak punya. Ayah juga tidak punya, Ibunda juga tiada. Istri juga belum punya, apalagi anak. Rumah juga hanya terbuat dari bilik saja dan bepergian ke mana-mana naik bus kota yang sumpek dan berbau keringat. Seringkali dihina pula. Ah, betapa aku orang yang sungguh perlu dikasihani. Aku segan hidup, tapi belum mau mati.”

Apa yang tersirat di dalam lirik seperti itu? Kurangnya keberanian untuk hidup. Kurangnya rasa syukur yang dalam akan makna hidup yang sebenarnya. Sudah diberi hidup untuk hari ini, masih juga mempermasalahkan kemiskinan dan tidak punya ini dan itu. Padahal, cukup dengan modal “hidup” saja, masalah kemiskinan dan tidak punya pasangan hidup bisa dicari sendiri pemecahannya. Pendapat seperti ini banyak membuat hati saya tidak enak, karena seakan-akan tidak bersyukur sama sekali akan harta tidak ternilai, yaitu kehidupan yang diberikan kepada kita karena kita begitu istimewa di mataNya.

Kekhawatiran luar biasa membebani setiap langkah yang diambil di dalam hidup. Ini sangat tidak baik. Kegalauan hati juga memberi warna kelabu, apalagi ketidakberanian untuk mengubah diri. Dengan mempercayai bahwa diri kita lemah dan tidak berdaya, maka alam bawah sadar kita sungguh percaya bahwa kita itu lemah dan tidak berdaya. Jadilah di dalam benak hanya ada satu yang dicari-cari: rasa belas kasihan bagi diri kita, yang datang baik dari luar maupun dari dalam diri.

Mungkin Anda sekarang berpikir, “Ah, Ibu Jennie ini bisa saja, karena dia toh tidak pernah merasakan naik bus kota. Dia kan ke mana-mana naik mobil mewah dan makan di hotel berbintang lima.” Eit, nanti dulu. Ketika saya kuliah di Depok, saya memang mempunyai pilihan untuk diantar jemput oleh sopir pribadi maupun naik bus kota karena orangtua mampu membiayai, walaupun mungkin dengan sangat pas-pasan.

Yang mana pilihan saya, menurut Anda? Naik bus kota setiap hari. Aneh bukan?

Waktu itu belum ada bus Patas ber-AC, sehingga mau tidak mau saya naik bus dari Sarinah ke Pancoran, terus dari Pancoran ke Pasar Minggu, dan dari Pasar Minggu baru ada `mobil unyil’ ke Depok. Turun di Margonda yang masih belum sepenuhnya beraspal saat itu, saya jalan kaki di tanah yang kadang-kadang becek di kala musim hujan dan selalu berlumpur tanah merah sepanjang tahun. Repot sekali karena berarti celana jins dan sepatu kets saya mesti dicuci begitu tiba di rumah. Kalau tidak ya tanah merahnya akan menempel permanen nodanya.

Selama perjalanan di dalam bus, tidak jarang saya mengalami hal-hal yang memalukan dan diolok-olok karena tinggi tubuh saya yang 172 sentimeter, sangat jangkung untuk ukuran Indonesia. Belum lagi wajah saya yang sangat “amoy” itu. Hal-hal rasis dan olok-olok yang tidak-tidak karena fisik saya sudah menjadi makanan sehari-hari. Paling tidak pasti ada sinar mata penuh rasa ingin tahu yang saya terima setiap hari dari sesama penumpang. Untunglah karena saya langganan setiap hari, para supir dan kenek bis sudah kenal dengan si “amoy jangkung” ini. Hal-hal begini sudah membuat saya “kebal” juga akhirnya.

Saat itu pernah terbesit di benak saya, betapa sesungguhnya saya sangat berbeda dari orang kebanyakan. Jika dituliskan lagi mendayu-dayu ala dangdut maupun pop sendu Indonesia. Mungkin ada lirik begini, “Betapa malangnya nasibku, ayah tidak punya, ibunda hidup susah kerja sendirian. Belum lagi tampangku Cina dan tinggiku seringkali mentok di dalam Metro Mini. Aku hidup susah, semua orang melihatku aneh dan berbeda dari orang lain.” Lucu dan “kasihan banget” bukan?

Eh, anehnya, tidak pernah satu kalipun saya merasa demikian. Malah kalau terdengar lagu-lagu mendayu, hati ini rasanya geli sekali. Tidak jarang saya tertawa terbahak-bahak mendengar hal-hal yang “mengasihani diri sendiri.” Mengapa? Karena di dalam benak saya, setiap hari haruslah menjadi hari yang lebih baik daripada kemarin. Dan ini tidak bisa di dapat dengan memanjakan diri bahwa “aku ini orang yang perlu dikasihani.”

Seperti billionaire philanthropist terkenal James Stowers pendiri American Century Investments pernah berkata, “If you don’t think tomorrow is going to be better than today, why get up? You’ve got to believe each new day is going to be better, and you have to be determined to make it so. If you are determined, then certainly… the best is yet to be.” Jika Anda tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik, mengapa bangun pagi? Anda harus percaya bahwa setiap hari baru akan menjadi lebih baik dari kemarin dan Anda mesti usahakan untuk menjadikannya demikian. Keyakinan Anda akan menjadikannya yang terbaik, jauh lebih baik.

Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia memberikan label “desa miskin” untuk desa-desa yang mempunyai income level di bawah garis kemiskinan. Saya sendiri kalau diizinkan untuk berkomentar sedikit, tapi mudah-mudahan tidak dianggap asbun ya. Bukankah sebaiknya ditulis “desa yang sedang membangun dengan semangat besar menuju masa depan yang lebih cerah lagi.” Untuk singkatnya, ya “desa membangun” saja. Bagaimana efeknya ketika dibaca? Memberi semangat keberanian untuk maju, bukan? Mudah-mudahan saja label “desa miskin” seperti ini sudah ditiadakan saat ini. Saya doakan. Namun, siapalah saya ini memberi masukan seperti ini.

Nah, keberanian untuk hidup berarti juga tidak mengasihani diri sendiri sama sekali. Berani hidup berarti berani menanggung kesulitan hidup karena mempunyai kepercayaan diri yang besar bahwa semuanya pasti bisa diatasi. Setiap hari adalah hari baru yang pasti lebih baik daripada hari kemarin. Kalau begitu, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Mari kita menertawai kekhawatiran dan ketakutan.[jsb]

Sumber: Berani Hidup oleh Jennie S. Bev.

Tindakan dan Prioritas0

Posted by Administrator in T (Thursday January 18, 2007 at 9:07 am)

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.”
~ St. Paul

Heru betul-betul menyesal. Tindakannya membalas SMS sembari menyetir telah membuat mobil barunya itu berubah bentuk. Mobil yang baru saja dibelinya dua minggu lalu itu kini harus masuk bengkel untuk diperbaiki.

Bisa jadi kita terkadang seperti Heru dalam kisah di tas. Kita lupa kalau tindakan menyetir sambil membalas SMS bisa berakibat fatal. Bukankah pandangannya pada saat bersamaan harus berfokus pada dua hal yaitu jalan dan keypad handphone. Heru seharusnya bisa bersikap bijak. Ia bisa memilih untuk membalas SMS setelah mobilnya sampai di tempat tujuan atau menepikan mobilnya sebentar agar bisa leluasa dalam mengetikkan SMS. Ini hanya soal prioritas.

Kekeliruan dalam menentukan prioritas dalam bertindak kerap menimbulkan masalah baru dan berbagai penyesalan. Saya kerap menjumpai banyak orang yang selalu mengatakan, “Saya sibuk. Tidak punya waktu untuk ini atau itu.” Terkadang saking sibuknya mereka tidak lagi punya waktu untuk beribadah. Lambat-laun mereka merasa Tuhan pun tidak dekat dengan hidup mereka.

Saya pernah mencoba untuk lebih memahami orang-orang yang kerap mengatakan mereka sibuk sekali. Sayangnya, sebagian dari mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh sibuk. Bahkan, banyak dari tugas yang mereka kerjakan yang tidak bisa diselesaikan tepat waktu meski mereka telah bekerja sangat keras. Mengapa? Salah satu alasannya karena mereka asal sibuk. Harus diingat kalau sekedar sibuk saja belum tentu akan membawa hasil.

Bagi mereka yang suka membaca buku-buku motivasi dan mengikuti seminar motivasi tentu pernah mendengar istilah “action is power”. Saya pribadi juga kerap mengatakan kalau orang ingin sukses ia harus menghindari lima organisasi terlarang yaitu: NATO (no action talk only), NACO (no action concept only), NADO (no action dream only), NAPO (no action plan only) dan NARO (no action review only). Betapa perlunya bertindak namun seiring perjalanan waktu, saya semakin menyadari kalau tidak semua tindakan akan membuahkan hasil yang baik.

Orang bijak kerap berkata, tindakan yang kita lakukan harus terdiri dari dua komponen tersebut yaitu kerja keras dan juga kerja cerdas. Bagaimana bentuk kongkritnya? Menurut saya ada beberapa unsur dalam sebuah tindakan yang akan membuahkan hasil.

Pertama, tindakan yang dilakukan berdasarkan prioritas. Tidak semua hal yang kita kerjakan adalah hal yang penting atau yang seharusnya kita lakukan. Kita bisa belajar hal ini dari para pemimpin yang benar-benar efektif dalam memimpin. Biasanya mereka hanya mengerjakan hal-hal yang telah menjadi prioritas bagi mereka dan selebihnya mereka delegasikan.

Kita dapat menentukan prioritas tindakan kita berdasarkan beberapa pertanyaan berikut: apakah tindakan kita akan membawa manfaat bagi peningkatan kualitas hidup kita? Apakah tindakan kita mendekatkan kita kepada impian kita? Apakah tindakan kita membawa manfaat bagi kehidupan orang lain?

Kedua, tindakan yang dilakukan dengan penuh komitmen. Orang yang penuh komitmen tidak akan menunda-nunda. Ia memiliki semangat yang tinggi untuk memulai dan juga menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak bekerja berdasarkan suasana hati.

Ketiga, tindakan yang dilakukan dengan penuh ketekunan. Sebuah pepatah dari Charles Spurgeon mengatakan, “Berkat ketekunan, siput berhasil mencapai bahtera Nuh.” Komitmen tanpa ditunjang oleh ketekunan sering kali membuat seseorang berhenti di tengah jalan. Pada masa-masa sulit komitmen akan diuji. Pada saat itulah seseorang sangat memerlukan ketekunan.

Keempat, tindakan yang dievaluasi secara berkala. Mungkin Anda pernah mendengar kisah seorang penebang kayu yang begitu bersemangat dalam bekerja namun hasil kayu yang ditebangnya dari bulan ke bulan semakin sedikit. Meski ia telah bekerja dengan lebih giat, hasil yang diperolehnya tidak juga meningkat, bahkan semakin sedikit. Mengapa? Ia tidak meluangkan waktu untuk mengasah kapaknya. Tidak heran ada pepatah bijak yang menegaskan, kehidupan yang tidak dievaluasi sebenarnya tidak layak untuk dijalani.

Bagaimana menurut pengalaman Anda? [pw]