Selalu Semangat0

Posted by Administrator in S (Saturday January 20, 2007 at 7:39 am)

Mendekati akhir tahun, Budi semakin hilang semangat. Tidak mungkin mengejar target bulan ini. Apalagi kalau dihitung-hitung waktu yang tersisa bulan ini hanya tinggal beberapa hari lagi. Sebentar lagi banyak calon pelanggan yang berlibur akhir tahun. Budi kesal. Orang lain senang kalau ada libur panjang, tapi Budi paling kesal kalau musim liburan tiba. Apalagi libur panjang. Mau menawarkan produknya kepada siapa?

Semua orang yang dikenalnya pasti pergi berlibur. Kalaupun tidak libur, biasanya tidak banyak kegiatan di kantor mereka. Biasanya order ditunda tahun depan.

Pagi ini Budi menghadiri undangan salah seorang teman yang berulang tahun. Acaranya sederhana saja. Makan pagi ramai-ramai di pinggir jalan. Menunya bubur ayam lengkap. Enak juga sih, soalnya gratis.

Selesai makan, mereka masih bercakap-cakap dan bercanda. Saat itu kebetulan di samping mereka terdapat sekelompok orang yang sedang makan bubur ayam juga.

Dari pembicaraan mereka, agaknya orang-orang itu adalah karyawan dari sebuah perusahaan yang baru saja selesai mengikuti acara akhir tahun di perusahaannya. Mereka dari berbagai daerah. Hari ini sebagian dari mereka akan pulang ke kotanya masing-masing.

Ketika semua sedang berbincang-bincang, tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil dan berjalan memasuki sebuah gedung perkantoran tak jauh dari tempat mereka makan.

Dia terkejut dan berkata:”Eh, itu dia Bapak Agus. President director- nya. Wah susah sekali menemui beliau. Sudah tujuh bulan aku belum juga berhasil menemuinya. Sibuk sekali dia. Presdir sih.”

Semua teman-temannya memandangi Bapak Agus yang sedang berjalan cepat masuk ke gedung. Sambil makan, mereka mengangguk-angguk.

Tiba-tiba, salah seorang dari mereka, seorang ibu yang mungkin berusia sekitar 50 tahun, langsung berdiri. Dia berdiri denga mulut yang masih mengunyah ayam, meninggalkan bubur ayamnya, menyambar tasnya lalu berlari cepat-cepat ke gedung tersebut.

Semua orang kaget. Tak ada seorang pun dari mereka yang bergerak. Tak ada seorang pun yang menyusulnya. Semua hanya kaget dan memandanginya berlari-lari. Beberapa orang menggeleng-gelengkan kepala.

Budi melihat semua kejadian ini dengan jelas. Budi mencoba meneba-nebak apa yang sedang dilakukan oleh ibu tadi.

Apa tujuannya masuk ke gedung itu? Apakah ada hubungannya dengan Bapak Agus itu? Apakah dia akan mengejar dan menjumpai Bapak Agus? Apakah dia hanya kebetulan saja ingin ke kamar kecil cepat-cepat? Apakah dia ada janji, dan hampir lupa janjinya? Entahlah.

Budi ingin mengetahui jawabannya. Karena itu Budi memutuskan untuk menunggu ibu itu kembali. Dia ingin tahu apa yang dilakukannya.

Sekitar 20 menit kemudian, ibu itu kembali ke tempat bubur ayam sambil tersenyum-senyum. Semua teman-temannya menyambutnya dengan antusias.

Mereka menanyakan apa yang telah dilakukan ibu itu. Budi juga ingin tahu. Sambil tersenyum-senyum, ibu itu berkata: “Saya mengejar Bapak Agus.” Teman-temannya kaget. Malah pria yang tadi mengenali Bapak Agus, terheran-heran: “Hah?? Pak Agus?? Bisa ketemu?”

Berhasil

Ibu itu mengangguk. “Ketemu, dong. Pak Agus sudah masuk lift. Saya kejar. Hampir saya kejepit pintu lift. Tapi saya berhasil masuk. Malah Pak Agus yang membantu menahan pintu untuk saya. Jadinya malah berkenalan di dalam lift.”

“Terus bagaimana?” tanya teman-temannya. “Ya, udah. Saya langsung bilang bahwa saya memang ingin menemui Pak Agus. Jadi saya langsung meminta waktu untuk bertemu. Eh, dia oke. Asyiiik.” Teman-temannya bertepuk tangan. “Terus bagaimana hasil pertemuannya?” tanya mereka. Budi semakin tertarik untuk mendengarkan.

“Ya, bagus. Saya langsung presentasi singkat. Dia sih pada dasarnya oke. Hanya saja dia minta saya presentasi lagi minggu depan di hadapan para manajernya. Katanya hanya untuk berkenalan dengan mereka. Soalnya dia juga bilang sudah oke dengan produk kita. Pasti beli deh!” Teman-temannya bertepuk tangan lagi.

Wah! Budi tercengang melihat peristiwa itu. Ibu yang tadi betul-betul luar biasa. Sudah tahu Pak Agus sulit ditemui, eh begitu melihat Pak Agus, dia langsung memanfaatkan kesempatan untuk menemuinya. Ibu itu bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Dia berpikir cepat, juga segera mengikuti dorongan hatinya, dan berani langsung bertindak. Pada saat semua orang sedang santai, bahkan saat itu mereka sedang tidak bekerja, sedang santai, sedang libur, tapi ibu itu tetap bersemangat tinggi.

Budi sangat senang. Rasanya kepalanya yang tadi kusut jadi ringan, hatinya menjadi gembira. Semangatnya bangkit kembali. Dia yang tadinya kesal karena sudah musim liburan, kini melihat bahwa yang menentukan keberhasilan seseorang bukan suasana atau hari libur, tapi orang itu sendiri.

Semangat orang itu sendiri. Juga tindakan yang cepat. Ibu itu berhasil menjual di saat yang tidak disangka-sangka. Bahkan ibu itu juga tidak menyangka. Dia hanya bermodalkan semangat.

Budi kini sadar. Dia tidak perlu kesal. Tidak perlu frustrasi Tidak perlu menyalahkan liburan. Yang penting tetap bersemangat.

Manfaatkan tiap kesempatan.
Never give up!!!
Whatever happens!!!

Sumber: Selalu Semangat oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting motivator dan praktisi bisnis

Surat Buat Mama ….0

Posted by Administrator in S (Saturday January 20, 2007 at 7:38 am)

Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem. Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.

Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya. Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.

Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak,Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja. Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?

Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan. Padahal kata Mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan? Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama Mama dia mau berhenti kerja.

Kalo dia berhenti berarti nanti Mama repot ya? Nanti Mama ngga bisa kerja ya? Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya? Kalo gitu susah ya, Ma? Mbak ngga diganti ngga apa-apa, tapi Mama bilangin dong jangan galak sama aku

Ma, bisa ngga hari Kamis sore Mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, Ma. Ntar yang dandanin Aku siapa? Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong. Kalo Mama kan kalo dandan cantik.

Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya. Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma. Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo Mamaku itu cantik banget, aku kan bangga,Ma. Temen-temen tuh ngga pernah liat mama. Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan Mereka jadinya udah lupa tampangnya mama.

Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh. Uangnya Mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh. Uangnya Mama tabung aja. Kalo uang Mama udah banyak,kan Mama ngga usah kerja lagi. Nah, itu baru sip namanya. Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama Mama kali ya?

Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk. I love you Mom,..(aku tanya bu guru katanya artinya “aku cinta padamu,” berarti aku juga boleh mencintai mama ya )

=============================

Coba bayangkan! Bagaimana perasaan seorang ibu jika menerima surat semacam itu dari anak yang dikasihinya? Dan bagaimana pula reaksi seorang ayah jika membaca surat tersebut? Masa bodohkah? Marahkah? Sedihkah? Bingungkah? Atau menantang kita untuk memikirkan kembali prioritas hidup yang kita jalan selama ini?

Kita agaknya memang perlu menyadari tantangan jaman yang berkembang. Ada banyak perbedaan antara konteks jaman ketika kita dibesarkan 40- 50 tahun silam, dengan konteks jaman sekarang. Sebagian dari kita mungkin tak bisa lagi membesarkan anak-anak seperti ketika kita dibesarkan orangtua kita. Jadi, kita memang perlu menemukan pola asuh yang lain, yang berbeda, yang lebih cocok dengan tantangan masyarakat kita saat ini. Dan dalam proses menemukan pilihan-pilihan yang lebih tepat, beberapa pertanyaan dasar mungkin perlu kita jawab dengan jujur. Misalnya, apakah anak-anak dan keutuhan keluarga masih cukup penting artinya bagi kita sebagai pribadi? Atau, tanpa kita sadari sepenuhnya, nilai dan arti anak-anak dan keutuhan keluarga telah mengalami inflasi besar-besaran dalam cara berpikir kita saat ini? Benarkah harta yang paling berharga adalah keluarga?

Wherever You Are, Be There0

Posted by Administrator in W (Saturday January 20, 2007 at 7:37 am)

A delightful story is told about a young man who applied for a job as a telegraph operator. He answered an ad in the newspaper and went to the telegraph office to await an interview. Though he knew Morse Code and was qualified in every other way, seven other applicants were also waiting in the large, noisy office.

He saw customers coming and going and heard a telegraph clacking away in the background. He also noticed a sign on the receptionist’s counter instructing applicants to fill out a form and wait to be summoned to an inner office for an interview. He filled out the form and sat down to wait.

After a few minutes, the young man stood up, crossed the room to the door of the inner office, and walked right in. Naturally the other applicants perked up, wondering why he had been so bold. They talked among themselves and finally determined that, since nobody had been summoned to interview yet, the man would likely be reprimanded for not following instructions an possibly disqualified for the job.

Within a few minutes, however, the young man emerged from the inner office escorted by the interviewer, who announced to the other applicants, “Thank you all very much for coming, but the job has just been filled.”

They were all confused and one man spoke up: “Wait a minute — I don’t understand. We’ve been waiting longer than he and we never even got a chance to be interviewed.”

The employer responded, “All the time you’ve been sitting here, the telegraph has been ticking out the following message: ‘If you understand this, then come right in. The job is yours.’”

This man knew a valuable life-lesson that most people miss: Wherever You Are, Be There. If you’re there physically, also be there emotionally. Be there mentally. Be there attentively. Be there as fully as you can.

It’s about being present and fully alive in the moment.

Wherever you are, be there. Give your full attention to others (is there really a better gift?). Give yourself fully to the task at hand or to the present moment. When you’re completely present, you’ll make the most of every minute. And minutes lived fully add up to a life lived magnificently.