Mendekati akhir tahun, Budi semakin hilang semangat. Tidak mungkin mengejar target bulan ini. Apalagi kalau dihitung-hitung waktu yang tersisa bulan ini hanya tinggal beberapa hari lagi. Sebentar lagi banyak calon pelanggan yang berlibur akhir tahun. Budi kesal. Orang lain senang kalau ada libur panjang, tapi Budi paling kesal kalau musim liburan tiba. Apalagi libur panjang. Mau menawarkan produknya kepada siapa?

Semua orang yang dikenalnya pasti pergi berlibur. Kalaupun tidak libur, biasanya tidak banyak kegiatan di kantor mereka. Biasanya order ditunda tahun depan.

Pagi ini Budi menghadiri undangan salah seorang teman yang berulang tahun. Acaranya sederhana saja. Makan pagi ramai-ramai di pinggir jalan. Menunya bubur ayam lengkap. Enak juga sih, soalnya gratis.

Selesai makan, mereka masih bercakap-cakap dan bercanda. Saat itu kebetulan di samping mereka terdapat sekelompok orang yang sedang makan bubur ayam juga.

Dari pembicaraan mereka, agaknya orang-orang itu adalah karyawan dari sebuah perusahaan yang baru saja selesai mengikuti acara akhir tahun di perusahaannya. Mereka dari berbagai daerah. Hari ini sebagian dari mereka akan pulang ke kotanya masing-masing.

Ketika semua sedang berbincang-bincang, tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil dan berjalan memasuki sebuah gedung perkantoran tak jauh dari tempat mereka makan.

Dia terkejut dan berkata:”Eh, itu dia Bapak Agus. President director- nya. Wah susah sekali menemui beliau. Sudah tujuh bulan aku belum juga berhasil menemuinya. Sibuk sekali dia. Presdir sih.”

Semua teman-temannya memandangi Bapak Agus yang sedang berjalan cepat masuk ke gedung. Sambil makan, mereka mengangguk-angguk.

Tiba-tiba, salah seorang dari mereka, seorang ibu yang mungkin berusia sekitar 50 tahun, langsung berdiri. Dia berdiri denga mulut yang masih mengunyah ayam, meninggalkan bubur ayamnya, menyambar tasnya lalu berlari cepat-cepat ke gedung tersebut.

Semua orang kaget. Tak ada seorang pun dari mereka yang bergerak. Tak ada seorang pun yang menyusulnya. Semua hanya kaget dan memandanginya berlari-lari. Beberapa orang menggeleng-gelengkan kepala.

Budi melihat semua kejadian ini dengan jelas. Budi mencoba meneba-nebak apa yang sedang dilakukan oleh ibu tadi.

Apa tujuannya masuk ke gedung itu? Apakah ada hubungannya dengan Bapak Agus itu? Apakah dia akan mengejar dan menjumpai Bapak Agus? Apakah dia hanya kebetulan saja ingin ke kamar kecil cepat-cepat? Apakah dia ada janji, dan hampir lupa janjinya? Entahlah.

Budi ingin mengetahui jawabannya. Karena itu Budi memutuskan untuk menunggu ibu itu kembali. Dia ingin tahu apa yang dilakukannya.

Sekitar 20 menit kemudian, ibu itu kembali ke tempat bubur ayam sambil tersenyum-senyum. Semua teman-temannya menyambutnya dengan antusias.

Mereka menanyakan apa yang telah dilakukan ibu itu. Budi juga ingin tahu. Sambil tersenyum-senyum, ibu itu berkata: “Saya mengejar Bapak Agus.” Teman-temannya kaget. Malah pria yang tadi mengenali Bapak Agus, terheran-heran: “Hah?? Pak Agus?? Bisa ketemu?”

Berhasil

Ibu itu mengangguk. “Ketemu, dong. Pak Agus sudah masuk lift. Saya kejar. Hampir saya kejepit pintu lift. Tapi saya berhasil masuk. Malah Pak Agus yang membantu menahan pintu untuk saya. Jadinya malah berkenalan di dalam lift.”

“Terus bagaimana?” tanya teman-temannya. “Ya, udah. Saya langsung bilang bahwa saya memang ingin menemui Pak Agus. Jadi saya langsung meminta waktu untuk bertemu. Eh, dia oke. Asyiiik.” Teman-temannya bertepuk tangan. “Terus bagaimana hasil pertemuannya?” tanya mereka. Budi semakin tertarik untuk mendengarkan.

“Ya, bagus. Saya langsung presentasi singkat. Dia sih pada dasarnya oke. Hanya saja dia minta saya presentasi lagi minggu depan di hadapan para manajernya. Katanya hanya untuk berkenalan dengan mereka. Soalnya dia juga bilang sudah oke dengan produk kita. Pasti beli deh!” Teman-temannya bertepuk tangan lagi.

Wah! Budi tercengang melihat peristiwa itu. Ibu yang tadi betul-betul luar biasa. Sudah tahu Pak Agus sulit ditemui, eh begitu melihat Pak Agus, dia langsung memanfaatkan kesempatan untuk menemuinya. Ibu itu bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Dia berpikir cepat, juga segera mengikuti dorongan hatinya, dan berani langsung bertindak. Pada saat semua orang sedang santai, bahkan saat itu mereka sedang tidak bekerja, sedang santai, sedang libur, tapi ibu itu tetap bersemangat tinggi.

Budi sangat senang. Rasanya kepalanya yang tadi kusut jadi ringan, hatinya menjadi gembira. Semangatnya bangkit kembali. Dia yang tadinya kesal karena sudah musim liburan, kini melihat bahwa yang menentukan keberhasilan seseorang bukan suasana atau hari libur, tapi orang itu sendiri.

Semangat orang itu sendiri. Juga tindakan yang cepat. Ibu itu berhasil menjual di saat yang tidak disangka-sangka. Bahkan ibu itu juga tidak menyangka. Dia hanya bermodalkan semangat.

Budi kini sadar. Dia tidak perlu kesal. Tidak perlu frustrasi Tidak perlu menyalahkan liburan. Yang penting tetap bersemangat.

Manfaatkan tiap kesempatan.
Never give up!!!
Whatever happens!!!

Sumber: Selalu Semangat oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting motivator dan praktisi bisnis

Share Button