Berbagi Cinta1

Posted by Administrator in B (Tuesday January 23, 2007 at 10:57 am)

Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk materia lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.

“Nina, apa yang anakku mau sayang” begitu ayah saya membuka percakapan.

“Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya.

“Nggak ah… ntar om marah” jawab Nina.

“nggak sayang, om tidak akan marah” ayah saya menimpali.

“Nggak ah… ntar om marah” Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, “ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang”

“Tapi janji ya om tidak marah” jawab Nina manja. “Om janji tidak akan marah sayang” tegas ayah saya.

“Bener om tidak akan marah” sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah

Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. “Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’ pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan

“ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.”

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata;

“bener ya om tidak marah.”

Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya

“om, boleh nggak saya memanggil ayah” Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan

“tentu anakku..tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om”

Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata “terima kasih ayah… terima kasih ayah…

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina

“anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?”

“Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah” sergah Nina.

“Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih.” Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon

“nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?”

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; “buat apa foto itu nak?”

Tanpa ragu Nina menjawab “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.

Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Sumber: Berbagi Cinta oleh Jamil Azzaini.

Pulang Saat Natal0

Posted by Administrator in P (Tuesday January 23, 2007 at 10:57 am)

Sebentar lagi Natal! Ingatkah ketika anda masih kecil dan saat itu hari Natal? Perasaan senang karena bisa menikmati liburan, merencanakan banyak hal dengan teman-teman, berkumpul bersama keluarga besar, suasana Natal di berbagai tempat… Bagi saya, kenangan yang terindah adalah kenangan saat Natal tiba, saat saya menghias pohon natal dan berbelanja untuk keluarga dan teman-teman saya. Ada banyak hal yang saya sukai tentang merayakan Natal. Namun di antara semuanya, saya paling menghargai saat-saat dimana saya bisa berada bersama keluarga dan teman-teman saya.

Hidup adalah tentang hubungan. Anda dan saya terlahir sebagai hasil dari hubungan antara ayah dan ibu kita. Di sepanjang kehidupan kita belajar dan bertumbuh lewat hubungan-hubungan kita dengan orang tua, teman-teman, dan guru kita. Setiap fakta dan contoh, setiap kebenaran dan tradisi yang kita tahu dan yang kita jalani diajarkan sebelumnya oleh orang yang mempunyai hubungan dengan kita. Tanpa hubungan-hubungan yang krusial ini, hidup tidak akan berarti.

Cobalah merenung sejenak. Mana yang lebih enak, apakah menikmati makan malam dan es krim atau menonton acara liburan di TV saat kita sedang sendirian? Apa yang benar-benar berarti adalah jika kita berada bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan membuat kenangan bersama-sama.

Ada sukacita yang besar dalam memberi. Saya masih ingat saat saya pertama kali pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli hadiah untuk keluarga dari uang saya sendiri. Waktu itu saya berumur kira-kira 11 tahun, dan saya sangat senang sat saya membeli kaos kaki untuk ayah, sandal untuk ibu, dan sebuah kaus flannel untuk paman saya. Dengan bersemangat saya membungkus setiap hadiah itu dan menempatkan mereka di bawah pohon natal kecil dekat kamar saya. Saya tidak sabar menunggu Natal tiba, hari dimana saya akan mengekspresikan kasih saya kepada keluarga dengan memberikan hadiah - hadiah yang saya beli kepada mereka.

Hal yang mengagumkan adalah, rasa senang dan keinginan untuk memberi, yang telah saya alami beberapa kali, adalah perasaan senang dan keinginan yang sama yang Tuhan ingin bagikan kepada anda dan saya. Dia sangat senang memberikan hadiah-hadiahNya untuk mengekspresikan kasihNya kepada kita, hadiah berupa kehidupan kekal dan menjadi bagian dari keluargaNya.

Rasakan kembali kehangatan keluarga itu… Ketika saya mengenang kembali saat-saat Natal yang sudah lewat, saya tidak ingat kebanyakan hadiah yang sudah saya dapatkan. Oh, tentu saja saya masih ingat beberapa hadiah yang sangat berkesan. Tapi apa yang paling saya ingat dari semuanya adalah kehangatan keluarga itu. Bahkan ketika kelakuan saya tidak begitu baik, keluarga saya tetap menginginkan saya berada bersama mereka, mereka ingin membagikan hati mereka kepada saya, dan mereka ingin saya juga membagi hati saya dengan mereka.

Dengan cara yang sama, Tuhan ingin anda berada bersamaNya, tidak peduli berapapun usia, warna kulit, tingkat pendidikan, atau kesalahan di masa lalu anda. Dia ingin setiap hari bisa saling berbagi hati dengan anda. Bahkan jika orang tua anda telah menolak anda, namun Bapa Sorgawi tidak menolak anda. Dia berdiri dengan tanganNya yang terbuka untuk menyambut anda.

Kehangatan cintaNya untuk anda tetap bercahaya, dan Dia ingin membangun hubungan pribadi dengan anda, lewat cara yang mungkin tidak pernah anda alami sebelumnya. Dapatkah anda mendengar suaraNya? Dia berkata, “Pulanglah kepadaKu…”(fis)

Visiting…0

Posted by Administrator in V (Tuesday January 23, 2007 at 10:56 am)

Sewaktu menjenguk seseorang di rumah sakit, banyak sekali yang mengatakan, “Bagaimana rasanya hari ini?”

Betapa konyolnya ucapan itu! Tentu saja keadaan mereka buruk, kalau tidak pastilah mereka tidak berada di rumah sakit kan?

Lagi pula, kata-kata klise tersebut membuat pasien menjadi tertekan mentalnya. Mereka tentu merasa kurang sopan kalau mereka membuat penjenguk menjadi sedih dengan berkata yang sebenarnya mengenai keadaan mereka yang payah. Bagaimana mereka bisa mengecewakan seseorang yang telah susah payah datang mengunjungi mereka di rumah sakit dengan menjawab bahwa mereka kesakitan, payah, seperti seonggok karung bekas? Oleh karena itu, mereka terpaksa berbohong, berkata,

Saya sudah baikan hari ini”, dengan perasaan bersalah bahwa mereka tidak berbuat apa-apa untuk cepat sembuh. Begitulah, begitu banyak pengunjung rumah sakit yang justru membuat pasien merasa lebih sakit!

Seorang teman dari Australia dalam keadaan sekarat akibat menderita kanker parah di sebuah rumah sakit di Perth. Saya mengenalnya sudah beberapa tahun dan cukup sering menjenguknya. Suatu hari dia menelpon saya di rumah, meminta agar saya mengunjunginya hari itu juga, karena dia merasa waktunya sudah dekat. Saya menghentikan segala aktifitas saya dan segera meminta seseorang mengantarkan saya ke rumah sakit di Perth yang berjarak tujuh puluh kilometer. Sewaktu lapor di resepsi rumah sakit tersebut, suster jaga mengatakan bahwa si teman tersebut memberi intruksi agar tidak seorangpun diijinkan menjenguknya.

Tapi saya sudah datang begitu jauh khusus untuk menjenguknya,saya berkata kalem.

“Maaf”, kata sang suster, “Dia tidak ingin menerima segala pengunjung dan kita harus menghormatinya.”

“Tidak mungkin,” protes saya, “Dia telah menelpon saya sekitar satu setengah jam yang lalu dan meminta saya datang.”

Suster tua itu memandang saya dan meminta saya untuk mengikutinya. Kami berhenti di depan kamar dia dan si suster menunjuk sebuah kertas yang diplester di pintunya: “TIDAK MENERIMA PENGUNJUNG!”

“Lihat!” kata si suster.

Begitu saya memeriksa kertas tersebut, saya membaca kata-kata lain, ditulis dengan huruf-huruf yang lebih kecil di bawahnya: “kecuali Ajahn Brahm”

Akhirnya saya boleh masuk.

Saat saya bertanya kepada teman saya, mengapa dia menaruh kertas pengumuman tersebut dengan perkecualian, dia menjelaskan bahwa setiap kali teman dan kerabat datang mengunjunginya, mereka sangat sedih dan tertekan menyaksikan keadaan dan kondisinya yang parah dan itu membuat perasaannya menjadi lebih buruk. Kena kanker sudah cukup jelek dan saya tidak ingin menambahnya dengan berhadapan dengan segala problem mental penjenguknya lagi.

Kemudian dia berkata bahwa cuma saya satu-satunya teman yang memperlakukannya sebagai seorang pribadi, bukan sebagai seseorang yang sekarat; teman yang tidak sedih melihatnya semakin hari semakin kurus dan loyo, malahan menceritakan lelucon-lelucon dan membuatnya tertawa. Saat itu saya menghiburnya dengan lelucon-lelucon, sementara dia mengajarkan saya bagaimana menolong seorang teman yang sedang menghadapi kematian. Saya belajar darinya bahwa saat menjenguk seseorang di rumah sakit, berbicaralah kepada pribadinya dan biarkan penyakitnya menjadi urusan dan pembicaraan dokter serta suster saja.

Dia meninggal kurang dari dua hari setelah kunjungan saya.