Memaafkan?

Posted by Administrator in M (Friday January 26, 2007 at 11:51 am)

Oleh: Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

Dalam agenda hidup saya, kata ini lama sekali tak pernah ada. Kala pertama saya hendak memaafkan dengan sungguh- sungguh, susahnya luar biasa.

Ada saja yang menghalangi saya berani melakukan tindakan yang mudah diucapkan dan sulit dilakukan itu, terutama untuk mereka yang pernah menyakiti hidup saya, yang menggosipkan saya bahwa saya tukang gosip hanya karena saya mengucapkan sesuatu dari mulut, sementara mereka yang menggosipkan saya membicarakan orang di dalam hatinya.

Jadi, yang kelihatan menjadi tukang gosip saya dan mereka yang mengumpat di dalam hati tetap terlihat seperti malaikat.

Pipi kiri dan pipi kanan

Jadi, rencana mulia itu selalu tertunda-tunda, sampai belasan tahun lamanya. Saat saya sudah merasa siap, ada saja pikiran yang tiba-tiba muncul yang mengatakan mengapa harus memaafkan, lha wong mereka memang salah kok, mereka memang yang jahat pada saya, mereka ini dan mereka itu. Dan, rencana itu senantiasa kandas di tengah jalan.

Apalagi kalau mengingat kalimat dalam ajaran agama saya yang mengatakan, orang menampar pipi kirimu berikanlah juga pipi kananmu. Wah… itu benar tak masuk akal untuk saya. Kalau orang mencium pipi kiri saya, maka saya tak hanya akan memberikan pipi kanan saya, tetapi semua area di tubuh saya.

Memberikan pipi untuk ditampar? Ya, mending saya tampar balik dan tak hanya kedua pipinya kalau bisa. Maka, memaafkan menjadi sebuah hal yang tak masuk akal. Terutama meminjam alasan teman saya yang “bijaksana” yang senantiasa mengatakan, “Yah… kita kan manusia biasa, sangat normal kalau kita punya banyak kelemahan dan susah memaafkan.”

Awalnya saya sangat menyetujui pikiran teman saya itu. Saya ini kan tak sempurna, jadi normal kalau yang tak sempurna menghasilkan sesuatu yang tak sempurna, bukan? Yang tak normal adalah bila yang tak sempurna mampu menghasilkan yang sempurna.

Namun, dengan berjalannya waktu, setelah dipikir-pikir lagi, bagaimana teman saya bisa mengatakan saya manusia yang punya banyak kelemahan, termasuk lemah syahwat, tetapi memiliki kekuatan menghina, mengejek, dan menjelekkan orang?

Saya pikir kalimat yang kelihatan bijaksana dari mulut teman saya itu hanyalah alasan untuk tidak memberi kesempatan kepada dirinya memanfaatkan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri. Atau mungkin ia tak bisa lagi melihat ia punya kekuatan karena seringnya mengatakan manusia punya kelemahan. Dengan kata bijaksananya itu ia seperti ingin mengajarkan saya untuk tetap tinggal dalam kelemahan itu.

Pemadam kebakaran

Mengapa saya senantiasa memilih dan merasa nyaman untuk berdiri dan mengaminkan saya punya banyak kelemahan, tetapi tak mau—bukan tak mampu—mencoba memberanikan diri meloncat ke sisi di mana saya punya kekuatan. Kalau saya punya kekuatan untuk menghina dan menyakiti orang, mengapa saya tak menggunakan kekuatan itu untuk memaafkan kembali mereka yang telah membuat hidup saya bertahun lamanya seperti neraka?

Coba Anda perhatikan kalimat terakhir yang saya tulis di atas. Mereka yang telah membuat hidup saya seperti neraka. Sekali lagi, saya masih memilih berdiri di sisi kelemahan saya sehingga saya bisa menuliskan bahwa yang membuat hidup saya sengsara seperti neraka bertahun lamanya adalah mereka yang menyakiti saya.

Mari coba meloncat dengan saya ke sisi kekuatan yang ada dalam diri saya. Kalau saja saya bisa berdiri di sisi kekuatan saya, maka saya akan menulis, yang membuat hidup saya sengsara seperti nereka tak lain adalah diri saya dan bukan mereka.

Namun, saya membiarkan diri saya terus berdiri di sisi kelemahan saya sehingga neraka kebencian itu terus menyala-nyala bertahun lamanya. Selamatnya saya tak jadi gosong karena terbakar amarah dan ketersinggungan.

Saya sekarang baru mau mencoba meloncat ke sisi kekuatan yang ada pada diri saya karena pada sisi yang baru ini saya akan seperti tim pemadam kebakaran yang siap meluncurkan air lewat pipanya yang besar dan dengan kekuatannya yang dahsyat sehingga api yang membakar diharapkan bisa dikalahkan. Diharapkan, karena belasan tahun lalu kantor di mana saya bekerja terbakar dan tim pemadam kebakaran datang dengan pipanya yang besar, tetapi tak punya kekuatan sehingga air yang keluar seperti orang buang air kecil.

Jadi, bila air saya bisa keluar dengan deras, saya tak perlu terbakar begitu lamanya. Karena air yang memadamkan akan memadamkan pikiran negatif saya dan saya siap memaafkan.

Orang lain bisa saja menjadi pencetus kebakaran, tetapi saya yang harus bertanya apakah saya ingin mempertahankan kebakaran itu atau tidak. Kalau tidak, maka sayalah yang harus berperan sebagai pemadam kebakaran dengan mempersiapkan kekuatan agar airnya tetap bisa kelewi (keluar maksudnya) secara maksimal.

Artinya, saya memang punya kelemahan, tetapi saya tak bisa hanya berhenti di situ dan merasa nyaman dengan kelemahan itu. Saya punya kekuatan, saya harus mampu berdiri di sisi yang positif ini. Dan satu hal yang akan saya ingat terus, saya ini anggota pemadam kebakaran.

“Hmm… fireman? ABCD dong,” kata teman saya. “Ai bo, cakep deh.”

Kalah atau Menang

1. Kalau Anda memutuskan memaafkan siapa pun, baik itu musuh, lawan politik Anda, atau orang yang menyakiti Anda, maka ingatlah, tindakan Anda itu adalah tindakan mulia. Bukankah ketika tiba saatnya Anda harus menghadap Sang Pencipta, maka tindakan mulialah yang diperlukan? Maka, jangan sampai ketika datang waktunya yang tak seorang pun tahu itu dan Anda tak bisa membuat janji terlebih dahulu seperti kebiasaan Anda membuat janji dengan dokter gigi langganan, Anda malah sedang naik pitam dan menyimpan dendam di lemari hati Anda.

2. Memaafkan adalah bukan soal kalah dan menang. Memaafkan adalah soal keberanian dan kemauan menjadi seorang pemadam kebakaran atau tidak. Kalaupun Anda kemudian mampu menjadi pemadam kebakaran dan Anda merasa menang karenanya, itu pun bukan berarti Anda menang atas musuh Anda, tetapi Anda memenangi pertandingan melawan kekerasan hati Anda. Itu yang membuat bila Anda mampu memaafkan, maka Anda akan memiliki perasaan yang luar biasa bak pemenang, bukan sebagai manusia kalah perang.

3. Suatu hari teman ibu saya bercerita suaminya mempunyai musuh bebuyutan sejak mereka masih muda. Kebencian itu bahkan nyaris berakhir dengan bentrok fisik. Suatu hari, setelah puluhan tahun dendam itu bersarang di hati keduanya, suami teman ibu saya itu menghadiri sebuah acara perkawinan dan kebetulan musuh lamanya juga hadir di acara itu. Suami teman ibu saya duduk bersama teman-temannya. Datanglah si musuh bebuyutan ini ke meja itu dan ia hanya menyalami teman-teman lainnya dan tidak suami teman ibu saya itu. Pada akhir acara, sebelum para undangan pamit pulang, suami teman ibu saya itu memutuskan untuk meninggalkan acara itu terlebih dahulu. Setelah menyalami teman-temannya dalam satu meja, ia mendatangi meja di mana musuh bebuyutannya itu duduk dan menyalaminya, menanyakan kabarnya, kemudian pamit pulang. Nah, kalau Anda ada pada kondisi seperti itu, Anda mau menjadi seperti suami teman ibu saya atau tetap menjadi si musuh bebuyutan?

4. Memaafkan sama sekali bukan sebuah tindakan yang sulit. Anda mau atau tidak, itu masalahnya. ****

5 comments for Memaafkan? »

  1. saya rasa renungan di atas membuat kita lebih berani untuk memafkan orang lain..dan lebih belajr untuk saling memaafkan orang yang menyakti hati kita..itu bukan sesuatu yang mudah
    namu dengan membaca tulisan diatas
    saya mulai mengerti dan belajar how untuk memaafkan orang lain…

    terima kasih//

    Comment by meitty — March 7, 2007 @ 11:39 pm

  2. benar.. satu hal yang harus saling beriringan adalah memaafkan dan melupakan..
    mungkin mudah untuk memaafkan namun kadang sulit untuk melupakan..
    kita kerap kali mengatakan “ya hari ini saya memaafkan dia” namun ketika ia kembali menyakiti kita, maka kita akan mengungkit hal-hal menyakitkan yang ‘dulu’ pernah ia lakukan, yang pernah kita maafkan..
    jadi ‘ingatlah’ untuk memaafkan dan melupakan..

    Comment by jessica — May 1, 2007 @ 8:08 pm

  3. Kata memaafkan barangkali sangat mudah untuk diucapkan. Tetapi melupakan kesalahan apalagi bila kesalahan itu sudah sangat menggores luka di hati, tentu tidak semudah mengucapkaan kata ‘aku memaafkanmu’. Hanya dengan keinginan untuk menjadi pelaku Firman Allah-lah, Roh Kudus memampukan kita untuk mengampuni dan melupakan segala kesalahan orang lain.

    Comment by nurhaida — May 31, 2007 @ 3:39 pm

  4. Saya sudah terlalu sering memaafkan dan melupakan tapi, jika masalah terulang lagi saya akan ingat semua hal-hal yang mengakitkan dan menjadikan saya murka dalam hati dan menimbulkan luka dan dendam yang mendalam. Dimana orang2 sekeliling juga tidak ada yang bisa mendukung saya dalam memaafkan suami. Ada yang mengatakan “tidak percaya suami seperti itu, karna suami saya seperti malaikat didepan orang sedangkan saya adalah orang yang sangat beruntung mendapatkan suami yang super baik hati. Ada pula yang mengatakan “tidak pantas suami saya berbuat seperti itu karna saya bukanlah orang yang bebal, bodah, menjemukan dan tidak disukai orang lain” hal ini mereka katakan karna mereka kenal baik dengan sikap dan kelakuan saya. Saya dibodohi, dibohongi, dihina oleh suami lebih dari 2 tahun. Saya sudah memaafkan dan melupakan itu, kemudian terulang kembali, kembali, kembali sampai hampir 1,5 tahun lagi. Saya bukan orang yang suka menguntit dan tidak percaya bahwa suami akan berubah, saya tetap dukung dia dalam doa dan percaya kembali apapun yang dia katakan. Sampai suatu ketika, kesabaran saya habis, saya tidak lagi mendoakannya dan membuat rencana perang yang dasyat. Saya marah sekali dan memukulnya tapi saya dipukul dan ditendang lebih dasyat. Itulah sekarang yang membuat saya belum bisa memaafkan dan melupakan sakit yang sudah menahun dan saya sering menangis, menangis dan menangis. Karna dari kecil saya tidak pernah dipukul oleh siapapun, karna saya tahu saya adalah anak yang penurut. Jadi orang2 yang dekat dengan saya tidak tega menyakiti saya. Orang tua saya laki-laki (allarhum) adalah orang yang pemabuk, pemarah dan suka menghancurkan benda-benda disekelilingnya kalau sedang mabuk, inilah yang membawa saya trauma sampai sekarang. Tapi saya ingat walaupun bapak saya seperti itu tidak pernah sekalipun dia main tangan terhadap istrinya. Saya pikir bapak saya yang sesadis itu saja tidak tega memukul istrinya tapi kenapa suami saya yang dikenal orang karna kebaikkanya tega memukul dan menendang saya sampai badan saya biru. Tragis dan truma sekali. Hal inilah yang belum bisa saya maafkan walaupun suami saya, sudah berubah hampir 100%. Saya bisa melupakannya saat dia ada didekat saya. Tapi kalau dia sudah pergi entertainment dengan orang2 yang mengukai dunia malam, saya kembali mengingatnya, membuat saya marah, sakit hati dan menderita. Karna saya tahu ini semua terjadi karna dunia malam yang telah dijalani suami saya bertahun2 yang saya tidak tahu apa sebenarnya dan apa yang dilakukan oleh mereka2 yang bergelut didunia malam. Dan setelah saya tahu dan pernah menjalaninya, saya trauma dan merasa diri diinjak-injak. Dunia yang dijalani ternyata adalah dunia narkoba, minum, perempuan. Menyerikan sekali. Pantas saja semua penderitaan yang saya alami terjadi. Sekarang kalau melihat teman2 suami, customer2 pecandu narkoba saya trauma karna saya juga kenal mereka. Saya tahu dan sadari tidak sepeserpun yang kami dapat dari pecandu2 narkoba itu. Kami hanya menuai dan tidak pernah memetik hasilnya. Saya katakan tidak sepeserpun yang akan kita dapat dari mereka dan itu menjadi kenyataan selama 3 tahun ini. Dulu saya katakan kalau suami saya tidak juga merubah dan tetap mengukai dunia malam, maka apapun yang dilakukannya akan sia2, semua habis. Dan itupun manjadi kenyataan project diambil temannya sendiri walaupun saya sudah ingatkan hati2 bergaul, project lain tidak pernah menang, ada satu yang menang itupun dibatalkan. Dan sekarang keuangan hampir habis, belum ada satu projectpun yang didapat suami saya. Sudah 1 tahun suami saya belum mendapat order. Tuhan murka dan menghukum kami. Tuhan marah sama saya, karna Tuhan mendengarkan dan mengabulkan hampir 100% permohonan saya, termasuk permohonan agar suami saya diberi hukuman tidak mendapat order jika dia belum juga berubah. Tuhan sayang sekali sama saya dan saya pernah katakan kepada teman suami “kalau orang Kristen apapun yang dia minta pasti Tuhan kabulkan asalkan dia mau bekerja keras dan berjalan dijalanNya yang benar, karna ini saya alami sendiri, tapi suami saya marah mendengarnya, dia katakan “memangnya Tuhan itu pembantumu, enak saja bicara, apa yang diminta pasti dikabulkan. Saya terdiam dan mengatakan dalam hati pengaruh setan masih kuat sekali dalam diri suami saya. Perusahaan sampai saat ini belum juga pulih, saya masih tetap suka manangis dan marah dalam hati jika suami pergi dan pulang pagi, saya tidak punya pilihan lagi selain menyijinkan suami pergi entertain customer, karna saya punya harapan mengumpulkan uang beberapa tahun ini dan nantinya membuat usaha yang jauh dari dunia malam, karna saya masih tetap dan percaya suami saya telah berubah. Tapi dilubuk hati saya yang paling dalam, saya yakin dan percaya Tuhan akan tolong usaha kami dan keluarga kami. Masa sih Tuhan membiarkan apa yang telah Tuhan beri Tuhan ambil kembali. Kita tidak kaya tidak juga miskin walaupun kita punya rumah 2 kecil dan mobil 2 yang biasa2 saja. Saya sangat bersyukur bisa menikmati semuanya itu. Anak2 kelakuan dan sikapnya baik, mereka anak2 yang takut akan Tuhan. Tuhan, jangan lagi menghukum kami, beri kekuatan dalam diriku untuk mau dan benar2 memaafkan suami agar tidak terhalang lagi berkat yang seharusnya telah Engkau limpahkan kepada kami. Ampuni dan sucikan hidup keluarga kecil kami dihadapanMu, dalam Kristus Yesus, Engkau telah mendengar dan mengabulkan doa kami. Kami mau manjadi berkat untuk pembangunan gereja Tuhan menjadi berkat dan penyejuk bagi yang berbeban berat. Kami tidak akan tega umat Tuhan menderita hanya karna meraka tidak mendapat pinjaman untuk membayar hutang, kami pasti berusaha mendapatkan pinjaman untuk kami beri buat orang yang perlu, untuk membayar hutang yang kami beri untuk orang lain, Tuhanlah yang akan memberkati usaha ini, sehingga kami mampu membayar hutang tersebut. Tolong kami Tuhan, kami mengasihi dan percaya kepadaMu. Dalam Kristus Yesus.
    Ini hanyalah curahan hati saya karna saya lagi bersedih dan menangis sendiri. Setelah saya menulis ini, saya merasa lega dan beban berat menjadi ringan, mudah2an banyak tempat buat saya mengadu, agar orang2 disekitar saya tidak mengetahui penderitaan saya, biarlah orang yang tidak mengenal saya yang mengetahuinya dan saya harap siapapun yang membaca artikel saya langsung mendoakan saya agar saya bertambah kuat setiap detik dan menambah jam2 doa saya.
    AMIN

    Comment by Jusmin — June 2, 2007 @ 12:05 pm

  5. LUAR BIASA ARTIKEL YANG DITULIS DI ATAS MEMBUAT SAYA SADAR DAN BELAJAR UNTUK MEMAAFKAN.

    MEMANG SAKIT-SAKIIITTT SEKALI HATIKU SAAT DI KHIANATI KEKASIH SENDIRI SELAMA 6 BULAN BELAKANGAN INI, NAMUN DENGAN INI SAYA DAPAT MENGERTI DAN BERSYUKUR ARTI MEMAAFKAN YANG TUHAN YESUS BOLEH PROSES SAYA AGAR LEBIH BERTEKUN DI DALAM IMAN
    MEMAAFKAN MEMANG SULIT SEKALI, SULIT SEKALI, SULIT SEKALI. TAPI DENGAN KASIH TUHAN YESUS KITA BEROLEH PENGAMPUNAN. MASAKAN KITA TIDAK SALING MEMAAFKAN.

    SEKARANG, WALAUPUN SAKIT HATI INI TAK TERGAMBARKAN NAMUN, SAYA MEMAHAMI KESALAHAN KEKERASAN HATI SAYA SENDIRI YANG TIDAK MAU MEMAAFKAN. TAPI KITA HARUS INGAT TUHAN YESUS SANGGUP MEMAAFKAN KESALAHAN DOSA-DOSA KITA.

    AMPUNI HAMBA YA TUHAN YESUS.

    1.JANGAN INGAT-INGAT KEMBALI KESALAHAN ORANG YANG KITA MAAFKAN.

    2. JANGAN UNGKIT-UNGKIT KESALAHAN ORANG YANG TELAH KITA MAAFKAN.

    3. MEMAAFKAN BERBUAHKAN MANIS PADA AKHIRNYA.

    4. INGAT SELALU TUHAN YESUS MAU MEMAAFKAN KITA.

    5. JIKA KITA INGAT KESALAHAN ORANG YANG KITA MAAFKAN SEBUT DALAM NAMA TUHAN YESUS BERULANG-ULANG KALI, KARENA ADA KUASA DALAM NAMANYA.
    TUHAN YESUS TOLONG HAMBA AGAR MELUPAKAN KESALAHAN ORANG LAIN.

    THANK’S
    TUHAN YESUS MEMBERKATI

    Comment by Frisnady — September 26, 2008 @ 1:56 pm

Leave a comment

(required)

(required but not published)

RSS feed for comments on this post.