Archive for August, 2015

look first before comment

Share

Share

Teman saya memberikan data2 beberapa perusahaan yang akhirnya gulung tikar pada era pemerintahan Jokowi ini.

Saya bilang, itu wajar. Perusahaan2 itu bukan rontok karena kebijakan Jokowi, mereka rontok karena :

1. Mereka dulu berhutang dengan dollar. Bisa bayangkan saat mereka hutang dengan 1 US dollar = Rp. 8.000,,-Sekian tahun kemudian US dollar sudah hampir mencapai Rp. 14.000,- . Bunga yg harus mereka bayar jelas membengkak karena pendapatan mrk dari rupiah.

2. Karena menguatnya US dollar di pasaran dunia, maka jelas perusahaan yang menggantungkan dirinya pada impor yang menggunakan dollar akan terpengaruh kuat. Biaya semakin tinggi, sedangkan penjualan tetap atau menurun.

Situasi ini yg tidak di-antisipasi banyak perusahaan karena mereka sudah terlalu nyaman dengan situasi masa lalu. Mereka tidak mempersiapkan diri dengan membangun pabrik manufaktur di sini dengan rupiah. Seandainya mereka dulu investasi dengan rupiah, tentu mereka akan lebih kuat menghadapi tekanan dollar.

Yang secara langsung berpengaruh dengan kebijakan Jokowi adalah pasar, terutama perusahaan yang mengandalkan penjualan produknya pada proyek pemerintahan. Kebijakan2 baru yang mengetatkan belanja pemerintah berpengaruh besar pada penjualan mereka. Begitu juga dulu cukup menyuap beberapa orang di pemerintahan utk menang tender, sekarang jauh lebih kompetitif dan permainan tender di beberapa daerah sudah main bersih karena takut KPK.

PHK adalah ekses negatif dari rontoknya perusahaan mereka. Tapi tahukah bahwa dengan US mengeluarkan kebijakan strong dollar policy, di US sana juga banyak perusahaan yang rontok karena ekspor mereka tidak bisa bersaing di pasaran internasional ?

Menurut analisa Reuters, krisis finansial ini sudah 26 perusahaan publik di US yang mengumumkan bangkrut di tahun ini. Dan akan menjadi berlipat dua di setiap 3 bulan. Bahkan perusahaan dengan jaringan 256 perusahaan di seluruh dunia yang produknya terkenal dgn nama Body Shop, pemiliknya juga mengumumkan bangkrut. Begitu juga pemilik label Lingerie. Reuters memperkirakan bahwa akhir tahun 2015 diperkirakan ada lebih dari 100 perusahaan di US yang bangkrut.

Dan mereka bangkrut bukan karena Jokowi, tapi karena kuatnya mata uang US dollar mereka sehingga mereka tidak bisa menjual komoditi mereka dibawah harga China dan negara2 lain yg menurunkan mata uangnya terhadap dollar. Senjata makan tuan bagi Amerika.

Dalam tatanan baru, alam selalu menghancurkan dirinya lebih dulu sebelum tumbuh kembali dengan bentuk berbeda. Itulah yg disebut equlibrium, titik keseimbangan baru.

Mereka yang terkena PHK selayaknya sudah harus mempunyai mindset baru, yaitu memulai usaha sendiri dengan menggunakan rupiah untuk pasar dalam negeri. Ketika perputaran rupiah di dalam negeri yg penduduknya hampir 300 juta ini lancar, maka secara otomatis Indonesia akan menemukan jati dirinya yang baru. Akan muncul pengusaha2 baru yang tahan banting, pekerja keras dan berfikir di luar kotak. Kalau sudah kuat di dalam negeri, baru mulai ekspansi keluar, jangan dibalik. Inilah kenapa pemerintah banyak membangun infrastruktur utk menguatkan ekonomi dalam negeri. Pemerintah sudah menyongong perubahan dahsyat di luar dengan merubah mindset di dalam.

Seperti kata seorang teman waktu sedang minum kopi bersama, “Dari dulu gua ikut seminar tentang keluar dari comfort zone, zona nyaman. Tapi gua gak melangkah2 karena terlalu banyak pertimbangan. Sekarang, sesudah perusahaan mau bangkrut dan ada PHK besar2an, akhirnya gua keluar dari comfort zone dengan sendirinya…”

Dia ketawa sambil menyeruput kopiinya, “Kadang kita harus dipaksa dan ditendang keluar dulu baru berani memulai cita2…”

Selamat datang PHK

Share