Pribadi Adalah Hadiah0

Posted by Administrator in P (Friday January 19, 2007 at 9:25 am)

Pribadi adalah hadiah yang terbungkus,
Yang dikirimkan Tuhan kepadaku.

Ada yang terbungkus indah;
Mereka sangat mempesona,
bahkan sewaktu aku pertama kali melihatnya.

Ada yang terbungkus dengan kertas biasa,
Yang lain sudah rusak dalam pengiriman,
Kadang-kadang ada kiriman istimewa.

Beberapa hadiah sampai kepadaku dengan bungkus longgar,
Yang lain datang dalam keadaan terbungkus rapat.

Tetapi bungkus bukanlah hadiah.
Dan betapa sering kita terkecoh.
Dan lucu bila anak kecil yang keliru.

Kadang-kadang hadiah itu sangat mudah dibuka,
kadang-kadang kubutuhkan orang lain untuk membukanya.

Apakah karena mereka takut terluka ?
Mungkinkah mereka pernah dibuka dan dibuang ?
Atau mungkin hadiah itu bukan untukku ?

Aku adalah pribadi,
Maka aku juga merupakan hadiah.
Pertama, hadiah untuk diriku sendiri.

Pernahkah aku sungguh melihat isi bungkusan itu ?
Atau takutkah aku melihatnya ?
Mungkin aku belum pernah menyadari bahwa diriku adalah hadiah yang begitu indah.
Mungkinkah ada sesuatu yang lain yang ada dalam bungkusan itu,
Yang tidak pernah kusangka ?

Bisa jadi aku belum pernah tahu,
Bahwa diriku adalah hadiah ajaib.
Dapatkah pemberian Tuhan itu tidak indah ?

Kalau aku mencintai hadiah dari mereka yang aku cintai,
Mengapa aku tidak mencintai hadiah dari Tuhan, yang begitu mencintai aku?

“Setiap pribadi adalah hadiah buatku …”
saat ini … pribadi yang ada di hadapanku pun adalah hadiah buatku …
yang aku sendiri belum tahu banyak tentang hadiah itu …
mungkin karena aku belum membuka seluruh hadiah itu …

walaupun ia terbungkus longgar,
sehingga seharusnya banyak orang yang bisa membukanya.
tetapi …ternyata tidak semua orang bisa membukanya .
dan aku bersyukur bahwa aku boleh membukanya barang sedikit…
sehingga aku tahu apa yang ada di dalamnya …
sesuatu yang memberikan satu realita bagi diriku
akan satu pribadi dengan segala apa yang dimilikinya …

pribadi yang mungkin tidak seperti bayanganku sebelumnya,
tapi pribadi itu mulai membuatku makin mengerti dan memahami
bagaimana aku harus menerima pribadi-pribadi lain apa adanya …

bukan seperti yang aku inginkan dan harapkan …
tapi pribadi yang ada seperti adanya mereka …

Kalau aku mencintai hadiah dari mereka yang aku cintai,
Mengapa aku tidak mencintai hadiah dari Tuhan,
yang begitu mencintai aku?

Pohon1

Posted by Administrator in P (Wednesday January 17, 2007 at 3:40 pm)

Alasan mengapa orang2 memanggilku “Pohon” karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih kuliah. Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya.

Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dsb, dia sangat peduli dengan orang lain dan religius tapi dia hanya wanita biasa saja.

Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.

Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untukku.

Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah “sahabatku” dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis2 lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.

Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata “lanjutkan saja” dan setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak .. dan merah .. Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, but aku tertawa dengannya seharian.

Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian berada di kelas untuk menangis. Dia tidak tau bahwa aku kembali karena sesuatu tertinggal di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejam-an.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya.

Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tau bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5,aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingi dia katakana pada ku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tau pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatinya aku,tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya.

Ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat didadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.

Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya.

Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di Handphoneku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis.

SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup
atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal ?”.

DAUN

Selama masa kuliah, aku suka mengoleksi daun2, kenapa?
Karena aku merasa bahwa daun untuk meninggalkan pohon yang ditinggali selama ini membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 thn, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi “Sahabat”. Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya -

’CEMBURU’

Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

Aku menyukainya dan aku tau bahwa dia juga menyukaiku, tetapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang memulainya dulu untuk melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit.

Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik diluar perlakuannya hanya untuk seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tau kesukaannya, kebiasaan nya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan ?

Diluar itu, aku mau tetap disampingnya, memberikannya perhatian, menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari, dia akan datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telphonenya setiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tau sesibuk apapun dia, dia pasti meluangkan waktunya untuk ku. Karena itu, aku menunggunya. 3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tatap menunggu. Luka dan Sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.

Ketika tahun ke 3, seorang pria mengejarku dia adalah adik kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan2 yang telah ditunjukkan,aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang kecil dihatiku.

Dia seperti angin yang hangat dan lembut,

Mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon.

Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku.

Aku tau Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik. Akhirnya Aku meninggalkan Pohon, tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

“Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak
memintanya untuk tinggal”

ANGIN

Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.

Angin akan meniup Daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya, ketika Aku melihat seorang memperhatikan kami bermain basket. Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya memerhatikan Pohon.

Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku,seperti daun yang suka melihat Pohon. Satu hari, dia tdk tampak, aku merasakan kehilangan.

Seniorku juga tidak ada saat itu, Aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di mata daun ketika Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun di tempatnya yang biasa,memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Menulis catatan dan memberikan kepadanya. Dia sangat kaget.

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya, dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan.

Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon.

Aku melihat ke arahnya dengan kata2 tersebut dan pelan dia mulai berkata padaku dan menerima kehadiranku dan telp ku.

Aku tau orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukai aku. Selama 4 bln, Aku tlah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya.

Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan ..

tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.

Aku bertanya,” apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?”, dia berkata, “aku mengengadahkan kepalaku”.

“Ah?” Aku tidak percaya apa yang aku dengar.
“Aku mengengadahkan kepalaku” dia berteriak.

Aku meletakkan telp, berpakaian dan naik taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, aku memeluknya kuat2.

“Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal”.

Penjaja Kue Semprong0

Posted by Administrator in P (Thursday August 31, 2006 at 10:49 am)

Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya. Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa. Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini.
Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue
semprong tersebut, ‘Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang”. Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabisnya. Nanti jatuhnya mubazir.

Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu. Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor. “Coba kalau ada penjaja makanan atau barang
dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?, tanyanya. Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi “pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan”.

Secara serempak kami mengiyakan.

“coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut?

Teman saya nyeletuk, “karena kita ngga butuh”.

Mantan bos saya bergumam, “Ya betul karena kita tidak butuh”.

Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.

Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas. Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi.

Akhirnya saya membuka kaca, “Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”. Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.

Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya.

Baru kali ini …

Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya
“untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan. Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup. Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah.

Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri
ditengah guyuran hujan dan menjerit, ‘Pak, memang harganya berapa ?”. Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. Akhirnya saya katakan, “ya sudah deh beli satu”.
Dia mebawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil, saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”.

Dia bengong.

“ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”.

Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca
mobil dan pergi.

Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana. Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul- betul kepada orang yang
berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang berhati mulia, dan betul- betul kepada
orang yang membutuhkannya, betul- betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.

Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak
penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan
kemudahan hidup oleh Allah. Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya.

Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak
penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan. (ldf 30/7/06)

« Previous PageNext Page »